Mencoba untuk gemar menulis tanpa pernah merasa terikat adalah tips utama bagi penulis pemula. Karena dengan begitu, para penulis pemula akan lebih enjoy menjaga mood-nya untuk mentransformasikan ide ke dalam tulisannya tanpa ketertekanan.
Catatan sederhana ini berisi pengenalan dengan beragam jenis tulisan, yang sebagian besar saya strukturkan dari tulisan-tulisan terkait milik Farid Gaban, Andreas Harsono, Tadeus dan penulis-penulis lainnya. Semoga bisa membantu dalam menumbuhkan dan memetakan minat tulis sesuai dengan jenis tulisan yang digemari teman-teman peserta pelatihan sekalian. Berikut strukturnya:
Dalam dunia tulis-menulis, jenis tulisan dikelompokkan dalam dua pembagian besar:
Fiksi adalah tulisan khayalan dalam bentuk novel, cerpen, naskah drama, puisi dan lain-lain. Menurut Tadeus, salah satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak bisa dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting, dan sebagainya adalah hal-hal penting yang memerlukan perhatian tersendiri. Meski demikian, dengan kisah (bisa juga data) yang asalnya dari imajinasi pengarang tersebut, tulisan fiksi memungkinkan kebebasan bagi seorang pengarang untuk membangun sebuah skenario yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan kepada pembacanya. Sementara itu, kebebasan yang dimiliki pengarang fiksi tadi di lain pihak juga memungkinkan adanya kebebasan bagi pembaca untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam tulisan tersebut. Artinya, fiksi sangat memungkinkan adanya multi interpretasi makna.
Tadeus menyebutkan bahwa pada perkembangan selanjutnya, fiksi zaman sekarang juga sudah berbeda dengan kisah fiksi lama yang sering identik dengan dongeng. Tulisan fiksi saat ini tidak melulu berisi hal-hal atau cerita imajinatif dan penuh khayalan. Kita bisa melihat contohnya pada fiksi-fiksi yang ditulis dengan gaya realis. Tak jarang sebuah fiksi yang ditulis dengan gaya realis yang baik mampu membuat banyak pembaca lantas mengidentifikasikan kisah tersebut dengan kondisi nyata di sekeliling mereka. Fiksi (biasanya cerpen) yang ditulis dengan cara bertutur seperti sebuah jurnal atau laporan juga ada, bisa disebut juga novel klasik Poor People karangan Fyodor Dostoyevsky yang ditulis dengan gaya surat menyurat. Selanjutnya ada juga genre fiksi-ilmiah yang memadukan dasar-dasar ilmu sains ilmiah dengan kisah-kisah khayalan. Fiksi-fiksi yang antara lain dipopulerkan oleh penulis seperti HG Wells dan Isaac Asimov tersebut pada perkembangannya juga sering mengilhami penemuan-penemuan yang kita kenal saat ini. Berkebalikan dengan fiksi ilmiah yang biasanya mengemukakan hal-hal yang belum terjadi, kitapun mengenal adanya novel-novel sejarah. Mulai dari novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang menyajikan cerita-cerita yang dilengkapi referensi sejarah sampai novel Da Vinci Code yang sebegitu meyakinkan data yang ia paparkan, hingga membuat banyak pemimpin Kristen kalang kabut dan orang Kristen bimbang akan fakta sejarah kekristenannya.
2. Non-Fiksi Yakni tulisan non-khayalan (berdasarkan fakta) dalam bentuk Esai, Laporan Riset, Reportase, Resensi, Biografi, Otobiografi dan lain-lain. Berkebalikan dengan fiksi, tulisan non-fiksi mengutamakan data dan fakta yang tidak boleh dibumbui oleh imajinasi atau rekaan penulis. Dalam tulisan non-fiksi yang berbentuk jurnalistik, penyampaian fakta ini bahkan harus memenuhi unsur-unsur yang terdapat dalam satu pakem yang disebut 5W1H (What, Who, When, Where, Why, How). Walau tidak sama, pentingnya referensi data ini juga menjadi syarat dalam tulisan yang lebih “bebas” seperti Esai, Feature, Memoir dan lain-lain. Namun, ini tidak berarti bahwa tulisan non-fiksi sama sekali tidak memberikan kebebasan bagi penulisnya.
Penulis non-fiksi tentu saja dapat menuliskan tema apa saja yang ia inginkan, bedanya ia hanya harus menyampaikannya dengan data yang dapat dipertanggung jawabkan, minimal oleh dirinya sendiri. Bahkan dalam praktiknya, bisa dikatakan topik untuk tulisan non-fiksi yang berupa Opini atau Feature juga lebih mudah ditemukan. Cukup dengan mengamati, menilai, atau memiliki usul, sebuah topik akan cepat didapat. Satu hal lagi yang membedakan tulisan non-fiksi dengan fiksi adalah kejelasan makna yang ingin disampaikan penulis dalam karyanya. Dengan menulis sebuah tulisan non-fiksi yang baik dan sistematis, pembaca akan lebih mudah digiring ke sebuah opini atau pesan yang ingin disampaikan penulis. Tanpa harus perlu mengartikan simbolisasi atau metafora pesan yang ingin disampaikan seperti yang terjadi pada cerita fiksi.
Tulisan non-fiksi pun saat ini tidak selalu bergaya laporan yang kaku, penuh kutipan data serta referensi yang membuatnya kering. Ini bisa dilihat dari dikenalnya Jurnalisme Sastrawi, yakni jurnalisme yang memakai estetika layaknya sastra dengan isinya yang menguak satu topik secara lebih dalam dan kadang juga disajikan dengan gaya sebuah narasi karya sastra. Jadi, jurnalisme semacam ini bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa, tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal tersebut. Hal serupa juga bisa kita lihat dari tulisan-tulisan feature, biografi, otobiografi, memoir dan lain-lain yang kini semakin banyak bisa kita nikmati seperti halnya saat membaca karya fiksi atau sastra.
Agar bisa lebih intim dengan ragam tulisan non-fiksi, berikut penjabaran singkat dari sebagian jenis tulisan non-fiksi tersebut:
- Tentang Karya Tulis Ilmiah
Contoh Karya Tulis Ilmiah adalah Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi, Laporan Riset dan lain-lain.
Karya Tulis Ilmiah memang identik dengan jenis tulisan yang berat. Dikatakan demikian karena proses kreatifnya yang meliputi pemilihan Topik Penelitian, Judul Makalah sampai Penentuan Teorinya memang meniscayakan energi yang lebih ekstra.
Dengan memahami struktur sebuah Karya Tulis Ilmiah bisa menjadi cara yang akan menolong penulis dalam menyajikan karya tulisnya. Bila sudah mengenal masing-masing aspeknya, sedikit-banyak akan melapangkan alur pemikiran penulisnya.
Secara umum, sebuah karya tulis ilmiah terbagi dalam tiga bagian besar. Bagian yang dimaksud adalah Pendahuluan, Isi, dan Pembahasan. Meskipun ketiganya merupakan inti dari sebuah karya, tentu saja masih dibutuhkan penyemarak lain, yaitu Abstrak, Prakata, Daftar Isi, Daftar Tabel/Skema, Bibliografi, dan Lampiran. Tentu saja kelengkapan-kelengkapan tersebut tidak semuanya mutlak disertakan.
Esai adalah opini yang mencakup beragam jenis tulisan semisal Kolom, Analisis dan Opini. Karakteristik Esai adalah: Pertama, berbentuk opini yang mewakili opini si penulis tentang sesuatu hal atau peristiwa. Kedua, memiliki lebih banyak unsur subjektivitas walaupun tulisan itu dimaksudkan sebagai analisis maupun pengamatan yang obyektif. Ketiga, memiliki lebih banyak unsur imbauan si penulis ketimbang sekadar paparan “apa adanya”, di mana ini dimaksudkan untuk mempengaruhi pembaca agar mengadopsi sikap dan pemikiran penulis, atau bahkan bertindak sesuai yang diharapkan penulis.
Esai sering disebut ANALISIS karena berisi pembedahan kritis terhadap suatu masalah. Resensi adalah contoh sebuah Esai yang analitis, karena Resensi biasanya membedah sebuah buku/film, menyarankan orang untuk menonton/membaca atau sebaliknya, dengan menyarankan orang untuk berpaling dari film/buku tersebut dengan disertai alasan argumentatif.
Esai sering disebut OPINI karena dimuat di halaman OPINI dan EDITORIAL (halaman non-berita yang memuat tajuk rencana/opini pemilik koran, kritik dan komentar/opini pembaca, serta opini orang luar/non-redaksi).
Esai juga sering disebut KOLOM (terutama di majalah) karena tulisan itu biasa dibingkai dalam boks, dengan perwajahan khusus dan dilengkapi foto penulisnya.
Tapi apapun sebutannya, semua jenis tulisan tersebut adalah Esai. Dan di majalah/koran, Esai umumnya ditulis orang luar/non-redaksi (kecuali Tajuk Rencana/Editorial).
Kolom pada dasarnya adalah Esai dalam bentuk yang khas. Kolom adalah tulisan regular (tetap) di media cetak. Halamannya tetap, jadwalnya tetap.
“Catatan Pinggir” karya Goenawan Mohamad, yang muncul setiap pekan di halaman terakhir majalah TEMPO adalah Kolom. (Tapi istilah Kolom di TEMPO juga sering rancu, karena dipakai untuk setiap tulisa orang luar).
Rubrik “RESONANSI” di Harian Republika adalah Kolom, muncul setiap hari di halaman 12, meski ditulis oleh penulis berbeda-beda (Zaim Uchrowi, Miranda Risang Ayu, dan sebagainya). Bahkan Farid Gaban, ketika masih bekerja di Republika juga mempunyai Kolom tersendiri yang hadir tiap pekan di edisi Minggu, namanya “SOLILOKUI”.
Rubrik “ASAL-USUL” di Kompas Minggu yang hadir setiap pekan di halaman 16 adalah Kolom, meskipun ditulis oleh penulis yang berbeda-beda (Suka Hardjana, Mohamad Sobary, Harry Rusly).
Umar Kayam juga pernah mempunya Kolom menarik di Harian Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta) yang hadir setiap Minggu. Di sana ia menokohkan Mr. Rigent yang unik dan sebagian darinya dikumpulkan dalam buku “Mangan Ora Mangan Kumpul”. Tulisan Umar Kayam ini pada dasarnya adalah opini, meski dia menyampaikan pikirannya melalui tokoh khayali.
Farid Gaban menyebut Kolom sebagai “esai dengan style”—bukan esai biasa. Karena menurutnya, kolom kerap terikat dengan personifikasi penulis, contohnya bisa diamati lewat kolom-kolom milik Goenawan Mohamad dan Umar Kayam.
Tapi bagaimanapun, Farid Gaban menyatakan bahwa kolom sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan tema yang serius seperti milik Goenawan Mohamad. Temanya bermacam-macam: termasuk soal Keuangan Pribadi (Safir Senduk), Konsultasi Kesehatan (Dr. Boyke), Konsultasi Pajak, Dapur Gizi, Panduan Mendidik Anak dan lain sebagainya. Intinya, jika suatu tulisan disajikan dalam pojok tertentu di koran/majalah, terbit secara rutin/terjadwal, dan ditulis oleh penulis yang tetap, maka tulisan tersebut bisa dikategorikan sebagai tulisan Kolom.
Farid Gaban menyebutkan feature sebagai artikel yang kreatif, kadang-kadang subyektif, terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan.
Lebih lanjut, Farid Gaban menjabarkan karakteristik Feature sebagai berikut:
KreatifitasBerbeda dari penulisan berita biasa, penulisan feature memungkinkan reporter ''menciptakan'' sebuah cerita.
Meskipun masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat -- karangan fiktif dan khayalan tidak dibolehkan -- reporter bisa mencari feature dalam pikirannya, kemudian setelah mengadakan penelitian terhadap gagasannya itu, ia menulis.
SubjektivitasBeberapa feature ditulis dalam bentuk ''aku'', sehingga memungkinkan reporter memasukkan emosi dan pikirannya sendiri. Meskipun banyak reporter yang dididik dalam reporting obyektif, ia tetap memakai teknik ini bila tidak ada pilihan lain, dan hasilnya, enak dibaca.
Tapi, reporter-reporter muda harus awas terhadap cara seperti itu. Kesalahan umum pada reporter baru adalah kecenderungan untuk menonjolkan diri sendiri lewat penulisan dengan gaya ''aku''. Kebanyakan wartawan kawakan memakai pedoman begini: ''Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda!''
Informatif
Feature, yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam penulisan berita biasa di koran. Misalnya tentang sebuah Museum atau Kebun Binatang yang terancam tutup.
Aspek informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam bentuk-bentuk lain. Ada banyak feature yang “enteng-enteng” saja, tapi bila berada di tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat yang ampuh. Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk menciptakan perubahan konstruktif.
MenghiburDalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi suratkabar untuk bersaing dengan media elektronika.
Reporter suratkabar mengakui bahwa mereka tidak akan bisa ''mengalahkan'' wartawan radio dan televisi untuk lebih dulu sampai ke masyarakat. Wartawan radio dan TV bisa mengudarakan cerita besar hanya dalam beberapa menit setelah mereka tahu. Sementara itu wartawan koran sadar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa tahu sesuatu kejadian -- setelah koran diantar.
Wartawan harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan saingannya, radio dan TV, dengan cerita eksklusif. Tapi ia juga bisa membuat versi yang lebih mendalam (in-depth) mengenai cerita yang didengar pembacanya dari radio.
Dengan patokan seperti ini dalam benaknya, reporter selalu mencari feature, terhadap berita-berita yang paling hangat. Cerita feature biasanya eksklusif, sehingga tidak ada kemungkinan dikalahkan oleh radio dan TV atau koran lain.
Feature memberikan variasi terhadap berita-berita rutin seperti pembunuhan, skandal, bencana dan pertentangan yang selalu menghiasi kolom-kolom berita, feature bisa membuat pembaca tertawa tertahan.
Seorang reporter bisa menulis ''cerita berwarna-warni'' untuk menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap kasus, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan kepadanya hal-hal yang baru dan segar.
Awet
Menurut seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk bungkus kacang. Unsur berita yang semuanya penting luluh dalam waktu 24 jam. Berita mudah sekali ''punah'', tapi berbeda dengan feature, ia bisa disimpan berhari, berminggu dan bahkan berbulan-bulan. Koran-koran kecil sering membuat simpanan ''naskah berlebih'' kebanyakan feature. Feature ini diset dan disimpan di ruang tata muka, karena editor tahu bahwa nilai cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu.
Dalam kacamata reporter, feature seperti itu mempunyai keuntungan lain. Tekanan deadline-nya jarang, sehingga ia bisa punya waktu cukup untuk mengadakan riset secara cermat dan menulisnya kembali sampai mempunyai mutu yang tertinggi.
Sebuah feature yang mendalam memerlukan waktu cukup. Profil seorang kepala polisi mungkin baru bisa diperoleh setelah wawancara dengan kawan-kawan sekerjanya, keluarga, musuh-musuhnya dan kepala polisi itu sendiri. Diperlukan waktu juga untuk mengamati tabiat, reaksi terhadap keadaan tertentu polisi itu.
Singkat kata, berbeda dengan berita, tulisan feature memberikan penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting—fakta-fakta yang mungkin merangsang emosi (menghibur, memunculkan empati, disampil tetap tidak meninggalkan unsur informatifnya). Karena penakanan itu, tulisan feature sering disebut kisah human interest atau kisah yang berwarna (colourful story).
Jenis-jenis Feature
a. Feature kepribadian (Profil)
b. Feature sejarah
c. Fature petualangan
d. Feature musiman
e. Feature Interpretatif
f. Feature kiat (how-to-do-it feature)