Saturday, August 22, 2009

“Membaca” Pers Masisir ::

[Dipresentasikan di acara Sarasehan Jurnalistik dalam rangka Perekrutan Kru Baru Terobosan, Cairo - 5 Agustus 2009]

Seyogyanya, pembacaan kritis dan komprehensif terhadap Pers Masisir harus diartikulasikan dari akumulasi kepingan nostalgia, realita kekinian, dan tantangan ke depan Pers Masisir tersebut.

Deskripsi sederhana berikut mungkin tidak akan banyak meng-cover telaah sejarah Pers Masisir secara deskriptif-komprehensif, sebagaimana ini juga belum begitu representatif untuk dianggap sebagai outline pointer yang bisa menghantarkan kita pada pembacaan kritis dan komprehensif tersebut. Tapi semoga deskripsi ini bisa memberikan sudut pandang baru dalam “membaca” corak dan ideologi Pers Masisir, berikut dinamika, serta tantangannya ke depan.

Corak dan Ideologi Pers Masisir

Secara umum, Pers Masisir kebanyakan merupakan gaung dari organisasi/komunitas induknya. Jadi tidak bisa dipungkiri bahwa media-media tersebut sedikit-banyak merupakan representasi dari corak dan visi-misi organisasi induknya. Contoh gamblangnya adalah media-media yang diterbitkan oleh organisasi induk kemahasiswaan semisal PPMI dan WIHDAH, organisasi Kekeluargaan, Afiliatif, Almamater maupun Senat. Serta juga media-media yang merepresentasi ideologi dan concern komunitasnya, semisal Arus Kampus dan Makar.

Menurut saya, yang dimaksud dengan media independen di komunitas Masisir adalah media yang benar-benar lahir dengan wujud media dan berperan sebagai gaung dari corak ideologi dan visi-misi media itu sendiri, tanpa didahului oleh eksistensi organisasi/komunitas yang mem-backing-nya. Di komunitas Masisir, jenis media serupa ini adalah Buletin Terobosan dan Buletin Akademika.

Dinamika Pers Masisir

Jika dipetakan dari sudut pandang dinamikanya, sejak dulu media pers Masisir yang concern menyajikan pemberitaan dan opini seputar Masisir adalah Buletin Terobosan, dan Buletin Informatika milik ICMI. Kedua buletin ini bisa disebut sebagai buletin mainstream yang merupakan gaung dari dinamika Maisisir secara keseluruhan. Dan Buletin Informatika yang ber-”ideologi” ICMI tersebut, memang merupakan buletin non-independen pertama yang menyediakan banyak ruang untuk pemberitaan seputar Masisir.

Namun belakangan, terutama sejak tahun 2005-2006, banyak buletin non-independen lain yang mulai juga menyediakan ruang yang lebih banyak untuk beramai-ramai menyorot isu ke-Masisir-an. Seperti buletin Afkar milik NU dan Sinar milik Muhammadiah. Termasuk di dalamnya buletin Suara PPMI, yang memang sudah seharusnya bertanggung-jawab moral dalam wilayah ini, mengingat buletin ini adalah corong dari organisasi induk Masisir.

Lalu pada bulan Juli 2007, Buletin Arus Kampus yang digagas oleh sejumlah Masisir untuk pertama kalinya diterbitkan. Tak berlebihan rasanya jika buletin yang merupakan media dari komunitas yang berusaha berjalan di “arus” lain di tengah-tengah sesaknya arus mainstream organisasi Masisir ini, dipandang sebagai simbol pencerahan di dunia permediaan Masisir, baik dari segmen substansi maupun perwajahan. Buletin Arus Kampus bukan hanya disebut-sebut sebagai pemecah kejumudan media komunitas Masisir, tapi juga disebut telah mendobrak kejumudan persepsi dan membuka paradigma Masisir untuk menyadari permasalahan inti komunitasnya secara lebih tajam. Arus Kampus bergema lantang. Dari sisi permediaan, kelahirannya disebut mencerahkan dan secara terang-terangan ideologi perwajahan dan substansinya banyak diadopsi oleh beberapa media di komunitas Masisir. Sementara dari sisi tema dan ide besar kekampusan yang diusungnya, komunitas Arus Kampus sumringah melihat mimpinya perlahan berwujud nyata seiring tumbuhnya kesadaran masal Masisir untuk semakin menyadari kekayaan kampus rayanya—kampus Mesir dan kampus Al-Azhar, berikut juga tumbuhnya kepedulian besar Government di lingkungan Masisir untuk menseriusi permasalahannya lewat “gawe” besar Lokakarya 2008 lalu.

Dan menyusul kemudian pengukuhan Komunitas Rumah Budaya Akar yang melahirkan Buletin MAKAR. Buletin ini juga berperan menerobos kejumudan media Masisir. MAKAR yang tampil dengan ide dan intensitas penerbitan yang relatif masif menjelma atraktif di tengah-tengah Masisir. Buletin MAKAR tampil sebagai representasi dari aktivitas Rumah Budaya Akar yang terbukti banyak responsif terhadap isu ke-Masisir-an. Buletin MAKAR benar-benar aktif menggaungkan aktivitas pembangunan budaya Rumah Budaya Akar dalam makna yang paling berbudaya di komunitas Masisir.

Sementara itu, media-media independen/non-independen lainnya juga terus meng-improvisasi kualitas isi dan perwajahannya. Seperti Buletin Informatika, Terobosan, Afkar, Sinar, Sinai, Latansa, Akademika, dan masih banyak lagi buletin-buletin lainnya. Sehingga wajar jika tampilan media Masisir sekarang disebut lebih eye cathcing dibanding masa-masa sebelum tahun 2007.

Tantangan Pers Masisir

Aktivitas penerbitan cetak Masisir belakangan diklaim lesu. Gairah media dan pegiatnya oleh banyak pihak dinilai tak sedahsyat dahulu. Ada beberapa faktor yang dianggap sebagai penyebab situasi ini. Di antaranya adalah pesatnya perkembangan teknologi cyber dan mudahnya akses internet di komunitas Masisir, yang tentu banyak menyeret perhatian Masisir untuk lebih intens bergiat di rupa-rupa aktivitas cyber yang demikian atraktif ketimbang di belantara nyata. Di samping, ini juga disorot sebagai konsekuensi logis dari dekadensi semangat berorganisasi secara umum di Masisir.

Benarkah demikian? Lalu bagaimana sejujurnya Anda selaku penghuni baru komunitas Masisir memandang tampilan dan substansi media pers yang ada di Masisir saat ini? Jika benar dekadensi tersebut terjadi, optimiskah Anda selaku stakeholder dari keberlangsungan Media Masisir dalam beberapa tahun ke depan untuk memulihkan kembali dekadensi tersebut?[]

Read More......

Wednesday, March 25, 2009

Never Blame Cyber! ::

[Dimuat di Buletin Suara PPMI, edisi Maret 2009]

Pesatnya perkembangan media cyber semakin membuat sebagian Masisir intens dengan beragam aktivitas maya. Bagaimana tidak? Rupa-rupa menu cyber yang kebanyakan melenakan itu memang terbukti kian menawarkan ragam aktivitas menarik yang tentu saja berakses global.

Sebutlah Weblog, satu jenis menu cyber yang semakin banyak menyuguhkan tawaran hosting, baik yang gratis maupun yang bertarif. Menu cyber jenis ini banyak digandrungi sebagai media publikasi dan koleksi tulisan karena ia sama sekali tidak mengikat penggunanya dengan etika jurnalistik apapun. Ragam aktivitas blogging yang secara natural menjadi aktivitas “wajib” pengguna Weblog pun, terbukti justeru dirasakan sebagai ajang latihan tulis-menulis efektif bagi para blogger, semisal aktivitas posting (pemuatan) dan updating isi blog, improvisasi design dan tampilan blog, blogwalking (kunjungan) ke blog-blog tetangga, atau sekedar commenting dan replying the comments.

Belum lagi jenis menu cyber yang berupa media jejaring sosial semacam Facebook, Friendster, MySpace dan lain-lain. Bisa kita saksikan dan rasakan, betapa media-media ini kian hari kian atraktif dan hipnotik. Selain kemitraan dan komunikasi yang sangat cepat terbangun lewat menu cyber serupa ini, kebanyakan media jenis ini juga memiliki space lengkap yang juga mengakomodasi aktivitas cyber “semi-serius” serupa Weblog. Friendster dan Facebook misalnya, di dua macam menu cyber ini, selain bisa berjejaring sosial, penggunanya bisa juga memosting tulisan-tulisannya.

Faktor-faktor di atas ditambah juga dengan kenyataan bahwa fasilitas internet di komunitas Masisir kian hari kian melimpah. Mulai dari ADSL yang bisa dibayar murah dengan “gotong-royong” satu flat, Wireless yang kerap unsecured di mana-mana, Dial-Up yang relatif murah, bahkan USB Modem yang menawarkan mobilitas yang menggiurkan. Semua itu, benar-benar semakin melebarkan pintu untuk lebih leluasa masuk dan menggeluti dunia cyber.

Lalu benarkan pernyataan yang mensinyalir bahwa seiring pesatnya perkembangan media cyber dan melimpahnya fasilitas internet tersebut, ditemukan juga semacam pergeseran minat Masisir untuk lebih cenderung menulis di beberapa media cyber dibanding menulis di media cetak Masisir, hingga menyebabkan lesunya aktivitas media di komunitas Masisir?

Saya kira pernyataan di atas perlu ditelisik relevansinya. Mengingat sepanjang ini, tradisi penyediaan tulisan di media-media cetak Masisir lebih banyak via permohonan langsung dari redaksi media ke calon penulis, ketimbang hanya menunggu dan mengakomodir tulisan-tulisan yang masuk dengan “sukarela” ke meja redaksi. Dari sini tentu tergambar bahwa dinamis-tidaknya aktivitas penerbitan media cetak Masisir salah satunya sangat tergantung pada kecakapan dan agresifitas redaksi dalam “menekan” para calon penulis untuk bisa menyerahkan tulisannya pada waktu yang mutual terhadap agenda sang calon penulis dan agenda penerbitan media cetak milik redaksi tersebut, bukan pada banyak tidaknya tulisan “sukarela” yang masuk ke meja redaksi tersebut.

Jadi bisa dilihat, perkembangan media lain—dalam hal ini media cyber—yang telah menciptakan lahan lain untuk mewadahi aktivitas tulis-menulis, justeru lebih tampak sebagai faktor penunjang meningkatnya kecakapan tulis-menulis yang memang telah berkembang cukup baik di komunitas Masisir secara umum. Hal ini tentu secara langsung maupun tak langsung akan beimbas positif bagi regenerasi penulis media cetak di komunitas Masisir, karena dengan bisa intens berlatih menulis via media-media cyber, tulisan-tulisan Masisir yang sebelumnya masih belum terlalu layak terbit, akan semakin berkualifikasi untuk di-publish di media cetak Masisir.

Terlebih jika mengingat “prestise” dan kepuasan untuk bisa menulis di media cetak secara umum, yang hingga saat ini masih unggul ketimbang menulis di media cyber. Masalah “prestise” dan kepuasan ini, meskipun tampak “tabu” untuk disinggung, terbukti memang merupakan satu hal penting yang perlu dikemukakan untuk menelisik relevansi wacana pergeseran minat tadi. Karena tak bisa dipungkiri bahwa beberapa tulisan para blogger yang ter-posting di weblognya, merupakan tulisan-tulisan “patah-hati” yang telah diajukan untuk dimuat di beberapa media cetak, tapi belum memenuhi kualifikasi untuk dimuat di media cetak tersebut.

Demikian, dengan beberapa penelisikan di atas, kiranya tidak relevan untuk mengecam media tulis-menulis cyber sebagai penyebab melemahnya aktivitas penerbitan media cetak Masisir. Karena dinamis atau tidaknya aktivitas penerbitan media cetak Masisir sebenarnya banyak tergantung pada militansi redaksinya masing-masing, bukan pada kegandrungan Masisir untuk lebih giat menulis di media tulis-menulis cyber ketimbang di media cetak Masisir.

Read More......

Friday, June 20, 2008

Minimalisasi Prosedur Diskriminatif terhadap Mahasiswa Indonesia Luar Negeri ::

Keberhasilan Katarina Nugroho untuk sampai di ajang Final Jury Lomba Menulis Esai Internasional Bank Dunia 9 Juni kemarin memang patut dibanggakan. Karena terhitung sejak Bank Dunia pertama kali mengadakan kompetisi menulis tahunan ini, belum ada satu pun pemuda-pemudi Indonesia yang bisa berhasil sampai di ajang Final Jury. Apalagi jika mengingat jumlah peserta yang berpartisipasi di tahun ini membludak hampir 50% dari tahun sebelumnya.

Katarina termasuk delapan penulis terbaik dari 3827 penulis lainnya yang berkesempatan mempresentasikan esainya dan menghadiri ABCD Conference di Cape Town 9-11 Juni kemarin. Sesuai dengan tema urban yang ditetapkan oleh panitia, di esainya, Katarina bertutur panjang-lebar tentang bagaimana memecahkan permasalahan-permasalahan urban di Jakarta dengan mempersiapkan generasi lewat pendidikan dan social entrepreneurship.

Tapi lebih dari sekedar kebanggaan tersebut, ada satu hal yang sebenarnya perlu menjadi catatan penting bagi pemerintah kita dari keberhasilan ini: Bahwa Katarina Nugroho adalah salah satu bukti potensi mahasiswa Indonesia luar negeri; bahwa pemerintah kita perlu lebih memperhatikan eksistensi dan potensi mahasiswa Indonesia luar negeri; bahwa selama ini banyak prosedur diskriminatif yang menghambat partisipasi mahasiswa luar negeri dalam berbagai even nasional/internasional; bahwa keberhasilan Katarina ini tak lepas dari prosedur eligibility keikut-sertaan yang tidak diskriminatif.

Prosedur Diskriminatif

Selama ini, harus disadari bahwa ada semacam prosedur diskriminatif terhadap mahasiswa Indonesia luar negeri untuk keikut-sertaan dalam banyak even/peluang nasional maupun internasional. Baik dalam even/peluang internasional yang meniscayakan penjaringan via negara, atau juga dalam even/peluang yang digalang oleh internal negara sendiri.


Semisal dalam prosedur keikutsertaan Phillip C. Jessup International Law Moot Court Competition, sebuah kompetisi paling bergengsi bagi mahasiswa Hukum yang diadakan di di Washington D.C. Maret-April lalu. Dalam even ini, eksistensi dan potensi mahasiswa hukum luar negeri sama sekali tidak dijaring, atau bahkan mungkin tidak terpikirkan. Padahal, ada banyak mahasiswa hukum luar negeri yang mungkin kapabel untuk dijaring sebagai representasi Indonesia di ajang tersebut.

Atau juga dalam banyak even-even nasional, kerap sekali mahasiswa Indonesia luar negeri harus kehilangan kesempatan karena even tersebut mensyaratkan keharusan pesertanya untuk terdaftar di salah satu universitas di Indonesia, seperti dalam prosedur keikut-sertaan beberapa even lomba tingkat nasional atau juga dalam prosedur pendaftaran magang kerja di beberapa instansi nasional.

Atau lebih jauh lagi, di wilayah peluang-peluang yang difasilitasi oleh pihak Non-Governmental, semisal Lembaga Beasiswa Peace Scholarship yang kerap menawarkan program-program Season Course serupa Summer Course, Winter Course dan lain-lain. Lembaga ini juga menetapkan standar eligibility pendaftarnya, jika sang pendaftar resmi terdaftar sebagai mahasiswa di salah satu universitas di Indonesia . Lagi-lagi, peluang mahasiswa luar negeri semakin minim.

Hal-hal tersebut menjadi masalah karena secara institutif, mahasiswa Indonesia luar negeri telah kehilangan kesempatan penjaringan via universitas. Universitas-universitas tempat mahasiswa Indonesia luar negeri tersebut belajar tentu akan lebih memprioritaskan mahasiswa-mahasiswa pribuminya untuk dipilih sebagai representasi univesitas. Apalagi jika even tersebut adalah even kompetisi antar Negara serupa Phillip C. Jessup International Law Moot Court Competition tadi.

Membuka Peluang

Minimalisasi prosedur diskriminatif ini bisa dimulai dengan mempersewajahkan peluang mahasiswa-mahasiswa Indonesia baik yang ada di dalam maupun di luar negeri. Sudah saatnya membuka lebar-lebar kesempatan bagi mahasiswa luar negeri untuk berkiprah sejajar dengan mahasiswa dalam negeri.

Untuk membuka peluang tersebut, setiap elemen pemerintah memang dituntut untuk memulainya bersama-sama. Dan ini tentu tak sulit. Karena elemen-elemen pemerintah tersebut hanya cukup mencantumkan saja eligibility keikut-sertaan mahasiswa-mahasiwa luar negeri dalam setiap even atau peluang yang digelarmya.

Lalu terkait pemberian peluang bagi even internasional yang membutuhkan penjaringan via Negara, bisa dilaksanakan dengan mengadakan penjaringan via KBRI selaku instansi perwakilan RI di luar negeri, untuk kemudian dijaring kembali di tingkat nasional bersama dengan representasi tiap daerah/universitas di Indonesia.

Karena, seperti yang telah ditegaskan sejak awal, keberhasilan Katarina di salah satu even internasional ini tak lepas dari prosedur eligibility keikut-sertaan yang tidak diskriminatif. Di mana di even ini, Bank Dunia sama sekali tidak mensyaratkan peserta kompetisinya untuk kuliah di tempat status kewarga-negaraannya berada.

Demikian, semoga keberhasilan Katarina ini benar-benar menjadi refleksi serius bagi pemerintah kita. Semoga ke depan, eksistensi dan potensi mahasiswa-mahasiswa luar negeri benar-benar bisa terberdayakan dan terjaring dengan optimal, bukan justeru terhalangi dengan beramai-ramai menutupnya.

Read More......

Friday, April 18, 2008

Imunisasi Pendidikan Pra-Hardiknas ::

Terselenggaranya kegiatan Lokakarya "Dukungan Terhadap Peningkatan Prestasi Mahasiswa Indonesia di Mesir" di Al-Azhar Conference Center, Nasr City, Cairo, tanggal 12-13 April lalu kiranya merupakan bingkisan berharga dari KBRI Cairo untuk momentum Hardiknas 2 Mei mendatang.

Betapa tidak? Lokakarya yang terlaksana dengan dukungan penuh dari Grand Syeikh Al-Azhar, Prof. Dr. Muhammad Sayyed Tantawi dan Menteri Agama RI, M. Maftuh Basyuni ini memang merupakan gagasan brilian untuk memulai pembenahan komprehensif terhadap permasalahan pendidikan Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) yang kompleks.

Kondisi Masisir yang jumlahnya kini mencapai angka 5083, sebenarnya memang tak se-“romantis” kondisi Fakhri di Ayat-ayat Cinta. Posisi Masisir yang terjebak antara sistem pendidikan Al-Azhar yang sangat tidak mengikat dan realita komunitas yang telah serupa miniatur Indonesia, memang sangat potensial mendorong terjadinya dis-orientasi pendidikan sebagian besar Masisir. Sebagai salah satu bukti, pada tahun akademik 2006-2007, terdata 52% Masisir tidak naik tingkat di Al-Azhar!

Realita inilah yang telah mendorong Dubes Abdurrahman Mohammad Fachir untuk mempertemukan semua stakeholder yang terkait dengan permasalahan Masisir dalam Lokakarya tersebut. Para stakeholder yang berkesempatan hadir dalam Lokakarya tersebut adalah: Pimpinan Al-Azhar, Kementerian Dalam Negeri Mesir, Kementerian Luar Negeri Mesir, Kedutaan Mesir di Jakarta, DPR RI (Komisi X), Departemen Luar Negeri RI, Departemen Agama RI, Departemen Pendidikan Nasional RI, Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Pemda Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Ormas Islam (NU, Muhammadiyah, PERSIS, ICMI), KBRI Cairo, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir, Alumni Al-Azhar, Asosiasi Pesantren, Lembaga Beasiswa di Mesir, Pemerhati Pendidikan, Kalangan Pers dan representasi mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan yang ada di tubuh Masisir.


Lokakarya ini secara umum membahas persoalan-persoalan yang ditinjau merupakan faktor penyebab kegagalan studi Masisir baik persoalan pra-studi, semasa studi dan pasca studi di Al-Azhar, yang kemudian dikelompokan menjadi tiga materi pembahasan utama, yakni Keazharan, Kemesiran dan Kemahasiswaan.

Bentuk pembahasan masalah dalam Lokakarya ini dilakukan melalui: Pertama, Ceramah dan Dialog, yakni pada saat pembukaan dan penutupan acara Lokakarya yang diisi dengan materi pokok pemantapan motivasi belajar, peningkatan wawasan dan peneguhan semangat berprestasi. Kedua, Pleno I, membahas materi Keazharan dengan pokok bahasan masalah-masalah mahasiswa Indonesia di Mesir serta hubungannya dengan Universitas Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan tempat di mana mayoritas Masisir menuntut ilmu. Ketiga, Pleno II, membahas materi Kemesiran dengan pokok bahasan masalah-masalah yang terkait dengan proses pengurusan visa masuk, izin tinggal, serta keamanan selama tinggal di Mesir. Keempat, Pleno III, membahas materi Kemahasiswaan yang merupakan hasil dari tiga Sidang Komisi terkait permasalahan-permasalahan pra studi, semasa studi dan pasca studi.

Pembahasan mendalam terhadap materi-materi pokok Lokakarya tersebut berakhir dengan kesepakatan peserta Lokakarya atas sejumlah rekomendasi kebijakan dan kesimpulan tentang perlunya masing-masing stakeholder memberikan kontribusi positif berupa solusi konkret, praktis dan efektif demi menyelesaikan persoalan-persoalan Masisir, sehingga diharapkan pada masa-masa yang akan datang dapat dibentuk suatu mekanisme dan proses yang mapan dan integratif dalam mewujudkan peningkatan prestasi Masisir.

Sebagai tindak lanjut, para peserta Lokakarya juga bersepakat tentang perlunya diadakan pertemuan dan pembicaraan lanjutan di antara beberapa stakeholder terkait untuk merumuskan langkah teknis dan operasional dalam rangka mengimplementasikan hasil-hasil kesepakatan dalam Lokakarya ini. Rencana tindak lanjut ini berada di bawah koordinasi KBRI Cairo dengan melibatkan stakeholder terkait.

Betapa bisa disaksikan, Lokakarya tersebut bukan hanya merupakan paket Imunisasi Pendidikan yang hasilnya akan dirasakan Masisir beberapa tahun mendatang, tapi juga merupakan paket Imunisasi Pendidikan masal yang pengaruh konstruktifnya telah dirasakan oleh sebagian besar Masisir pada saat berlangsungnya acara Lokakarya tersebut.

Lebih jauh lagi, Lokakarya ini ternyata juga bukan hanya menyerupai paket Imunisasi Pendidikan yang hasilnya akan dirasakan oleh Masisir selaku “obyek” Lokakarya ini, tapi juga merupakan paket Imunisasi Pendidikan yang juga akan sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan generasi Indonesia dan masa depan Indonesia secara makro, mengingat mahasiswa Timur-Tengah memang masih menyandang public trust tersendiri di tengah-tengah masyarakat Indonesia dan masih diakui sebagai instrumen intelektual penting dalam berbagai peran kebangsaan, sebuah citra positif yang dengan optimis diafirmasi oleh beberapa peserta Lokakarya seperti Dr. Marwah Daud, KH. Abdullah Syukri Z, MA, Prof. Dr. Din Syamsuddin, KH. Hasyim Muzadi, Prof. Dr. Maman Abdurrahman dan lain-lain.

Secara konklusif, Lokakarya ini memang baik untuk dijadikan cermin, tentang gambaran government yang peka memahami permasalahan secara utuh dan “berani” mengawali langkah pembenahan yang komprehensif, tentang gambaran government yang berhasil mengimunisasi kuliatas pendidikan “rakyat”-nya dengan tepat dan mengena, tentang government yang telah mempersembahkan upaya serius bagi pembenahan kualitas pendidikan sekawanan generasi bangsa di Mesir, tentang government yang berhasil mempersembahkan bingkisan inspirasi pembenahan pendidikan untuk momentum Hardiknas 2 Mei mendatang.

Read More......

Monday, April 7, 2008

Budaya Akademik, budaya Kita ::

[Dipresentasikan pada Sarasehan Budaya "Membangun Kembali Kebudayaan Masisir" dalam rangka Pembukaan Rumah Budaya "Akar", Cairo - 07 April 2008]

Prolog; Realitas Budaya Masisir


Benar bahwa Masisir, dengan ragam pluralitas dan besarnya kuantitasnya kini memang telah menyerupai miniatur Indonesia, beragam organisasi dan dinamika di tanah air banyak ditemukan kepanjangan tangannya di Mesir ini. Kondisi Masisir memang telah jauh lebih dari cukup untuk disebut sebagai satu tatanan masyarakat yang plural dan berbudaya turun-temurun. Berbagai dinamika dan aktivitas tumpah ruah di keseharian Masisir. Semuanya seolah berlomba menggoreskan warna di kanvas perwajahan komunitas Masisir. Semuanya seolah berlomba mewariskan tradisi yang entah kondusif atau tidak eksistensinya terhadap status “pelajar” Masisir.

Lebih Detail tentang Budaya Masisir

1. Defenisi Budaya Masisir

Dalam Wikipedia disebutkan bahwa budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “buddhayah”, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal), yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Sedangkan dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut “culture”, yang berasal dari kata Latin, Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Ada banyak definisi yang menjelaskan pengertian kebudayaan. Secara konklusif, Wikipedia mendefinisikan kebudayaan sebagai: “Sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat”.

Dari definisi tersebut, bisa diadaptasikan definisi kebudayaan Masisir sebagai “Sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran Masisir, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan tersebut bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan Masisir adalah benda-benda yang diciptakan oleh Masisir sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, pola-pola pandang, bahasa, ideologi, peralatan hidup, organisasi, seni, olah raga dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu Masisir dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat di Mesir”.

2. Unsur-unsur Budaya Masisir

Berikut unsur-unsur budaya Masisir yang klasifikasinya saya adaptasikan dari klasifikasi unsur-unsur budaya secara umum oleh Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski di Wikipedia:

a. Sistem norma yang mengatur hubungan dan tindak-tanduk Masisir (norma institusi pendidikan, norma government, norma organisasi dan lain sebagainya)
b. Prasarana pendidikan formal dan non-formal (universitas al-Azhar, universitas Cairo, universitas Liga Arab dan lain sebagainya serta pusat kajian, perpustakaan dan lain sebagainya)
c. Organisasi berikut corak, jenis dan ideologinya
d. Government (PPMI, KBRI dan Pemerintahan Mesir)
e. Geliat Mata Pencaharian

3. Wujud dan Komponen Budaya Masisir

Di Wikipedia, J. J. Hoenigman menyebutkan bahwa wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: Gagasan, aktivitas, dan artefak. Begitu juga dengan budaya Masisir ini, saya kira bisa dibedakan juga menjadi tiga. Berikut ilustrasinya:

Gagasan (wujud ideal)

Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran Masisir. Jika Masisir tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis Masisir tersebut.

Aktivitas (tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari anggota Masisir tersebut. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas Masisir yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan Masisir lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.

Artefak (karya)

Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya Masisir berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan.

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: Wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:

a. Kebudayaan material, kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan Masisir yang nyata dan konkret. Semisal karya tulis, karya seni, beragam lapangan pekerjaan dan lain sebagainya.

b. Kebudayaan non-material, kebudayaan non-material adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari satu generasi Masisir ke generasi lainnya, misalnya berupa tradisi keorganisasian, pola pandang, tradisi intelektualitas, lagu-lagu keorganisasian, tradisi fanatisme anggota organisasi dan lain sebagainya.

4. Penetrasi kebudayaan luar ke dalam kebudayaan Masisir

Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan Masisir sepanjang pengamatan saya antara lain terjadi melalui:

a. Tradisi kedaerahan yang berproduk Rumah Daerah yang terbukti besar implikasinya terhadap perkembangan pola pandang/karakter Masisir.
b. Tradisi Afiliatif dengan beragam kegiatan khas afiliatifnya, semisal Holy Tour oleh PCI-NU, Intensifikasi Training oleh PWK-PII dan lain sebagainya yang sedikit-banyak telah mewarnai dinamika dan aktivitas Masisir.
c. Tradisi Almamater dengan penghidupan kegiatan-kegiatan khas Almamater, semisal Pantomim khas Gontor yang dalam beberapa event diduplikasi oleh Masisir lainnya, atau setidaknya masih diusung oleh warga Gontor sendiri tapi di forum non-Gontor.
d. Tradisi keorganisasian yang banyak teradopsi dari sistem organisasi yang dibawa oleh Masisir yang sebelumnya aktif berkecimpung di organisasi-organisasi di tanah air. Semisal sistem keorganisasian PPMI—Student Government System (SGS) yang dibawa oleh beberapa Masisir yang pernah berkecimpung aktif di organisasi kemahasiswaan lainnya di tanah air.
e. Tradisi per-media-an yang banyak diserap dari media-media di luar Masisir. Semisal media Arus Kampus yang secara umum membawa wacana substansi dan perwajahan baru yang sedikit banyak terinspirasi dari media-media luar Masisir dan dalam beberapa waktu telah mempengaruhi warna substansi maupun perwajahan media-media lain di Masisir.

5. Yang Ironis dari Budaya Masisir

Ada satu hal yang sekian lama telah menjadi dosa kolektif Masisir. Dinamika dan aktivitas Masisir yang plural ternyata kebanyakan bergerak sembari menghapus corak akademik yang seharusnya menjadi corak utama komunitas yang menampung 5083 mahasiswa ini. Sehingga tak heran jika kini, komunitas Masisir dengan beragam laku budayanya sudah tak dikenali lagi sebagai komunitas yang bercorak akademik.

Indikasi ke-ironis-an tersebut bisa dilihat dari beberapa kondisi produk kebudayaan Masisir yang kebanyakan melenceng dengan misi akademik, sebutlah sistem dan paradigma keorganisasian yang kebanyakan kurang sinergis dengan kepentingan akademik, ragam aktivitas baku yang terlalu menyibukkan, minimnya produktivitas Masisir, minimnya minat baca-tulis Masisir, maraknya geliat mata pencaharian yang terlalu membuai, minimnya eksplorasi khazanah ke-Azhar-an dan ke-Mesir-an, maraknya rumah daerah yang juga berimplikasi negatif terhadap status “mahasiswa luar negeri Masisir” dan lain sebagainya.

Epilog; Membangun Kembali Budaya Masisir

Kebudayaan Masisir kebanyakan memang telah mentradisi kuat dan terwariskan turun menurun tanpa banyak terkritisi relevansinya terhadap stabilitas akademik. Yang nahas, kebudayaan yang kurang kondusif terhadap akademik tersebut kebanyakan tak disadari atau bahkan dipandang apatis.

Lalu, benarkah kebudayaan Masisir harus dibangun ulang? Jawabannya tentu “Ya” jika naluri akademik masih bercokol di nurani kita.

Lalu, mungkinkah budaya Masisir dibangun kembali? Jawabannya tentu ada pada kesadaran dan keinginan kuat kita untuk membangunnya kembali.

Lalu, budaya seperti apakah yang idealnya ditradisikan sebagai “Budaya Primer” di komunitas Masisir ini? Jawabannya tentu “Budaya Akademik” jika kita masih menyadari status kita sebagai mahasiswa yang ditunggu kiprahnya di Indonesia sana.

Lalu seperti apakah “Budaya Akademik” tersebut? Jawabannya tentu seputar pengkondisian kembali agar akademik bisa mengomando, bukan justeru mengekor. Akademik bisa mewarnai, bukan justeru terwarnai. Akademik bisa dihormati dan ditoleransi eksistensinya selaku “Budaya Primer”, bukan justeru “diinjak-injak”. Akademik bisa menghegemoni, bukan justeru terhegomoni.

Lalu, bagaimana pembangunan kembali tersebut bisa dimulai? Jawabannya tentu ada pada kesadaran kita terhadap geliat pro-akademik yang beberapa bulan ini akrab di telinga kita. Jika government kita saja sedemikian optimis, kenapa kita selaku obyek permasalahan budaya kita sendiri masih kebanyakan diam tak berkutik? Mari kita ubah status kita menjadi subyek yang cekatan membenahi permasalahan sendiri, bukan sekedar obyek yang tak bergerak!

Read More......

Friday, April 4, 2008

Dialektika Pesantren dan Modernisasi ::

[Dipresentasikan dalam Dialog Umum Ngabarians, dalam rangka Ulang Tahun Pondok Pesantren Wali Songo ke-47, Cairo - 04 April 2008]

Di tengah beragam problematika pendidikan yang kompleks, Pondok Pesantren, sebagai salah satu instrumen pendidikan di Indonesia, saat ini kebanyakan sedang terjangkit krisis eksistensi. Menurunnya jumlah santri dan rendahnya daya jual alumni adalah problematika umum yang menjadi isu global di kebanyakan Pesantren di tanah air.

Hal ini tentu merupakan konsekuensi logis dari menjamurnya corak pendidikan Islam alternatif—semisal Pendidikan Islam Terpadu, Yayasan Islam al-Azhar, Sekolah bercorak Muhammadiyah, Sekolah bercorak NU, dan lain-lain, yang menurut asumsi publik tentu jauh lebih menjanjikan. Karena jika ditilik dari sistem pendidikan dan pra-sarana, corak pendidikan Islam alternatif tersebut memang lebih up to date dan responsif terhadap tuntutan kekinian dibanding sistem pendidikan dan pra-sarana Pesantren yang kebanyakan jauh tertinggal.

Dalam kasus ini, kita bisa mencermati bahwa kekhawatiran masyarakat akan modernisme yang melahirkan berbagai paham lainnya semisal hedonisme, konsumerisme, pornografi, kultur MTV dan lain-lain ternyata berbanding lurus dengan kekhawatiran masyarakat akan ketertinggalan anak/remaja mereka dari peradaban produk modernisasi, jika saja anak-anak mereka harus mengenyam pendidikan di institusi tradisionalis serupa Pesantren. Dari sinilah kita bisa melihat dua wajah modernisasi: Pertama, modernisasi dengan implikasinya yang merupakan ancaman bagi moral anak/remaja. Kedua, modernisasi dengan produknya yang merupakan tuntutan yang harus dipenuhi dalam fase pendidikan anak/remaja. Dan dari sini jugalah corak pendidikan Islam alternatif ternyata mulai banyak dilirik dan diprioritaskan, mengingat sistem pendidikan dan pra-sarananya yang kebanyakan lebih menjanjikan untuk memenuhi tuntutan modernisasi tersebut sekaligus sebagai solusi untuk mencegah implikasi paham-paham turunan modernisme tadi.


Maka tak heran, jika Pondok Pesantren, baik yang Salaf maupun yang Modern, kemudian dihadapkan pada beragam tantangan untuk survive di tengah-tengah pesatnya tuntutan modernisasi dan menjamurnya corak pendidikan Islam alternatif yang lebih kapabel tersebut. Diperlukan beragam strategi agar corak pendidikan pesantren tetap bisa berdialektika dengan tuntutan zaman dan terus berdaya saing besar.

Berikut pemetaan global permasalahan-permasalahan Pesantren yang sedikit banyak telah menjadikannya kurang berdaya-saing di tengah menjamurnya corak pendidikan Islam alternatif yang dinilai banyak pihak lebih representatif menjawab tuntutan produk modernisasi:

1. Problematika Ketertinggalan Pesantren Salaf

Corak Pesantren Salaf, yang identik dengan loyalitasnya terhadap tradisi keilmuan klasik dan keterasingannya dengan kemajuan zaman, memang sampel corak Pesantren yang paling sering dikultuskan sebagai corak pesantren tertinggal. Beragam permasahan yang menjangkiti Pondok Pesantren Salaf memang berujung pada pertanyaan mendasar tentang seberapa besarkah relevansi pola pendidikan Islam tradisionalis serupa ini terhadap pesatnya tuntutan modernisasi dan besarnya persaingan institusi pendidikan Islam dewasa ini?

M. Rodli, S.Sos.I, M.Pd.I, dalam artikelnya “Pesantren Salaf di Simpang Jalan” menyebutkan tiga tantangan utama yang harus dijawab oleh pihak Pesantren Salaf di era modernisasi ini: Pertama, menurunnya kualitas penguasaan bidang pengetahuan agama para santri lulusan Pesantren Salaf. Kedua, terkait masalah kemandirian ekonomi. Ketiga, adanya kecenderungan melunturnya budaya salaf.

2. Pondok Pesantren Modern; Pola Pendidikan yang Kerap “Setengah-setengah”

Dewasa ini telah menjamur corak Pondok Pesantren yang mencoba mengimbangi tuntutan modernisasi dengan beragam pembenahan. Modernisasi sistem diupayakan di sana-sini. Memang ditemukan beberapa Pondok Pesantren Modern yang sukses mengaplikasikan corak modern-nya sekaligus sukses mewarnai corak pendidikan yang beridentitas. Tapi tak jarang pula upaya modernisasi pendidikan Pesantren ini berujung pada pola pendidikan yang “setengah-setengah”. Di mana modernisasi pendidikan diadopsi mentah-mentah tanpa penyesuaian, target, dan tinjauan kritis atas relevansi pemberlakuanya. Yang seperti ini bukan hanya menjadi ancaman bagi semakin mengecilnya daya saing Pondok Pesantren-Pondok Pesantren “prematur” tersebut terhadap beragam institusi serupa di sekelilingnya, tapi juga sepenuhnya membahayakan nilai jual alumninya selaku produk pendidikannya.

Telaah Wacana: “Tentang Identitas Pendidikan Ngabar”

Berikut adalah catatan yang pernah saya tulis terkait problematika identitas pendidikan Ngabar yang bagi saya sangat dilematis, menurut saya ini baik untuk dicantumkan sebagai bahan eveluasi bersama tentang riskannya kecendrungan pola pendidikan pesantren modern yang kerap “setengah-setengah”.

Tentang Identitas Pendidikan Ngabar

Terlalu lama saya tak membuka Rubrik Edukasi di Jawa Post. Berita yang seharusnya menghentakkan saya sejak pertengahan 2007 kemarin baru saya temukan semalam.

Ya! Semalam saya memang tercenung panjang saat membaca Liputan seputar Percontohan Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) versi Depag yang memprofilkan Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ) sebagai sampelnya setengah tahun silam.

Tak lain, liputan itu tentu mengingatkan saya tentang Madrasah Aliyah Wali Songo—almamater saya di Ngabar sana, sekaligus satu sketsa problema inti terkait corak pendidikan Ngabar. Ini saya pikir akan sangat berpengaruh terhadap identitas dan prospek pendidikan Ngabar.

Mungkin premisnya begini: Dulu, alasan saya untuk lebih memilih Ngabar ketimbang Mantingan adalah karena Ngabar menawarkan kurikulum umum "resmi" yang menginduk di Depag sekaligus kurikulum Pondok Pesantren yang teradopsi dari Gontor. Sementara Mantingan tidak. Mantingan murni berkurikulum swadaya-Gontor saja.

Kurikulum umum menjadi begitu penting bagi saya saat itu karena saya masih sangat terobsesi untuk kuliah di jurusan umum meskipun jenis pendidikan menengah yang direstui orang tua saya hanya Pondok Pesantren. Begitulah, saya pun resmi nyantri di Ngabar, dengan harapan tetap mengkonsumsi pelajaran-pelajaran umum sebagai bekal masuk PTN.

Tapi siapa sangka, tawaran dua kurikulum yang tampak menggiurkan itu justeru nantinya saya temukan sebagai inti keluh-kesah saya di Ngabar. Saya kira, konsistensi Ngabar untuk menjalankan dua jenis kurikulum itu secara bersamaan akan terus "muluk-muluk" jika tak diimbangi dengan keseriusan untuk optimal menjalankan kedua-duanya.

Saya benar-benar merasakan klimaks ke"muluk-muluk"an-nya saat saya berada di tahun akhir pendidikan saya di Ngabar. Bayangkan! Tahun 2005 lalu, 99,99% santri jurusan IPA di Ngabar (Termasuk saya) dinyatakan tidak lulus UAN!

Realitas pahit itu selamanya ironis. Betapapun banyaknya alasan masuk akal atas ketidak-lulusan itu, tetap tak akan bisa menghapus "Rapor Merah" pendidikan Ngabar di mata publik. Dan Ngabar harus bertanggung jawab, karena Ngabar telah "berani" menerapkan pola kurikulum ganda itu sebagai instrumen pendidikan santri-santrinya.

Yang lebih mendasar, saya juga merasa jika kurikulum ala "muluk-muluk" ini telah dan akan terus berujung pada pencetakan santri-santri yang berkemampuan dan berwawasan "setengah-setengah". Baik semasa di Pondok maupun setelah menjadi alumni.

Karena tidak diwarnai dengan satu paradigma pendidikan yang baku, santri-santri Ngabar banyak tak terorientasi saat menentukan jenis pendidikan tinggi setelah lulus dari Ngabar. Banyak yang gengsi untuk meneruskan pendidikan di jurusan agamis yang sebenarnya merupakan lahan perannya sebagai alumni Pondok Pesantren. Akhirnya, banyak ditemukan alumni Ngabar yang masuk Perguruan Tinggi Islam tapi di jurusan umum. Yang lebih lucu, ada yang mati-matian ikut SPMB dengan target asal masuk PTN. Jadilah ditemukan juga santri Ngabar yang masuk di PTN "kelas bawah" dengan jurusan Bahasa Arab!

Di sini saya tidak sedang berpolemik tentang kecendrungan. Tapi sepenuhnya tentang apa sebenarnya "bekas awet" pendidikan Ngabar yang bisa tercermin dari alumni-alumninya. Yang sekiranya jika dilihat, orang bisa serta-merta maklum bahwa itu hasil olahan Ngabar. Yang benar-benar merupakan identitas khas pendidikan Ngabar. Yang kelak melahirkan pencitraan bahwa Ngabar memang serius menjalankan kurikulum ganda yang melandasi khittah pendidikannya.

Di Cairo, saya benar-benar merasakan "tanda tanya" besar itu. Banyaknya mahasiswa Azhar dengan background Pesantren yang beragam membuat saya berpikir panjang tentang apa HASIL spesifik dan signifikan dari kurikulum Pesantren yang teradopsi Dari Gontor dan kurikulum umum yang teradopsi dari Depag tadi. Menurut saya, alumni-alumni Ngabar belum punya CIRI KHAS KOLEKTIF yang bisa merefleksikan kualitas pendidikan Ngabar. Jika Gontor gemilang dengan karakter khas besarnya swadaya skill alumninya, lantas Ngabar apa? Jika Lirboyo cerah dengan alumni-alumninya yang kental dengan tradisi intelektual, lantas Ngabar apa?

Overall, semalam saya seolah menemukan titik penyelesaian dari problem identitas pendidikan Ngabar yang kompleks saat membaca liputan tentang Percontohan MBI versi Depag tadi. Saya merasa Ngabar bisa mengawali langkah searching of schooling identity-nya dengan cukup lebih serius melakoni konsistensinya untuk berjalan di dua kurikulum tadi. Tak perlu ke mana-mana.
Karena saya kira, instrumen yang dimiliki MANJ untuk menjadi percontohan MBI sudah sangat membenih di Ngabar. Pemberdayaan skill berbahasa Arab-Inggris di Ngabar telah cukup baik diterapkan. Tinggal dua hal besar terkait intensifikasi kurikulum Pondok dan kurikulum Depag.
Tampaknya, selain berani mengadopsi kurikulum ganda yang "berat" tadi, Ngabar memang harus mulai berani melakukan upaya dan perombakan yang "berat" juga. Ngabar bisa—misalkan, secara "radikal" memformalkan waktu sore dan mengalokasikannya secara khusus untuk mata pelajaran Pondok, sementara waktu pagi benar-benar diintensifkan untuk mata pelajaran umum. Di samping, Ngabar juga bisa dengan "radikal" memangkas semua hal yang kurang efektif dan kontra-produktif dengan kebutuhan santri-santrinya sembari melengkapi apa-apa yang kurang. Apapun itu.

Cara-cara "radikal" ini saya pikir akan besar sekali perannya dalam menjawab problem-problem seputar Identitas Ngabar. Cara-cara ini mungkin kejam terhadap tradisi dan butuh pengorbanan besar, tapi saya yakin, ini salah satu jalan untuk menepis ke"muluk-muluk"an Ngabar selama ini.

Lalu Bagaimana Idealnya Pesantren Menjawab Tantangan Modernisasi?

M. Dawam Rahardjo (1995) berpandangan bahwa pesantren adalah lembaga yang dapat mewujudkan proses perkembangan sistem pendidikan Nasional. Mungkin karena pola pendidikan di Pesantren adalah pola pendidikan yang komprehensif (berlangsung selama 24 jam).

Hal ini seharusnya dipandang sebagai potensi yang selanjutnya diupayakan perwujudannya dengan pembenahan sistem dan tradisi yang telah berlaku dalam masing-masing Pondok Pesantren tersebut. Seperti dengan mengintensifkan tradisi yang sekiranya kapabel untuk dijadikan instrumen persaingan dengan institusi-institusi lainnya, atau bahkan dengan pembenahan-pembenahan radikal terhadap sistem yang sekiranya merupakan sumber ketertinggalan dan minimnya daya saing Pondok Pesantren-Pondok Pesantren tersebut.

Terkait problematika Pesantren Salaf, M. Rodli, S.Sos.I, M.Pd.I dalam artikel serupa juga menyebutkan dengan ringkas bahwa untuk menjawab tiga tantangan utama Pesantren Salaf yang telah disebutkan sebelumnya, diperlukan tiga strategi berikut:

Pertama: Kecendrungan menurunnya kualitas penguasaan bidang pengetahuan agama para santri lulusan Pesantren Salaf harus diupayakan langkah antisipasinya. Semisal dengan menyusun pola kurikulum yang terencanakan secara sistematis dan target pencapaian yang jelas juga. Sebagaimana diketahui, selama ini Pesantren Salaf dalam sistem pengajarannya, meski telah menerapkan sistem madrasi, masih berstandarkan acuan kitab-kitab kuning, tanpa diubah dan dimodifikasi. Penyusunan kurikulum ini sebenarnya tidak harus memberangus penggunaan kitab-kitab salaf, namun setidaknya, harus ada pola penjenjangan kitab-kitab kurikulum sesuai dengan tingkatannya. Juga tentunya terdapat skala prioritas penekanan dan pencapaian secara tepat. Langkah lainnya, adalah dengan menggairahkan kegiatan-kegiatan diskusi atau musyawarah, bahtsul masa-il dan pola-pola pembelajaran yang bisa menumbuhkan daya inisiatif dan kreatif santri, seperti model sorogan. Selain itu, Pesantren Salaf hendaknya mulai mengembangkan wawasan pengetahuan agama santrinya hingga bidang pengetahuan ilmu-ilmu al-Qur’an, Hadits, Ushul Fiqh, dan—jika memungkinkan, menambahkan porsi pengajaran bidang pengetahuan sejarah. Selama ini, Pesantren Salaf kurang memberikan porsi memadai untuk ilmu-ilmu tersebut, atau dalam pencapaian target pengajarannya kurang maksimal. Pesantren salaf memang terkesan Fiqh-oriented, kendati pun bidang pengetahuan bahasa Arab juga menjadi salah satu perhatian utama, namun inipun diajarkan sekedar sebagai instrumen pengantar untuk memahami bidang pengetahuan Fiqh melalui kitab-kitab klasik, tidak lebih dari itu. Pendalaman bahasa Arab di Pesantren Salaf ternyata bukan ditujukan sebagai sarana komunikatif atau muhadatsah baik secara aktif maupun pasif. Sehingga tak heran, kalau banyak lulusan Pesantren yang mengalami kesulitan jika berkomunikasi dengan bahsa Arab, meski bertahun-tahun belajar Nahwu-Sharaf dan Balaghah.

Kedua: Keinginan untuk memperjuangkan misi penyebaran ilmu dan dakwah memang sedikit banyak terhambat oleh faktor ekonomi dan finansial. Adalah tidak etis jika misi tersebut justru dijadikan sandaran hidup satu-satunya. Santri harus mandiri secara ekonomi, tanpa mengesampingkan misi dan tugas mulianya. Bahkan –sebagaimana para pengemban ilmu pengetahuan lainnya– santri haruslah menjadi pionir dalam usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitarnya, bukan malah menjadi beban masyarakat. Menyikapi kendala semacam ini, pesantren hendaknya memberikan antisipasi sedini mungkin dengan membuka program pendidikan dan pelatihan berorientasi vocational melalui sanggar-sanggar keterampilan dan kursus-kursus dalam kegiatan ekstra kurikuler. Namun, sekali lagi, ini hanyalah bersifat tambahan yang secara kondisional harus diterapkan dengan terpadu dan tepat tanpa mengusik dan mengalihkan fokus utama tafaqquh fiddin, pendalaman ilmu-ilmu pengetahuan agama. Dan, tentu saja, skala prioritas tetap harus diterapkan dengan ketat.

Ketiga: Kecenderungan melunturnya budaya salaf harus segera mendapatkan porsi perhatian lebih. hal yang paling krusial untuk segera diupayakan adalah menyelamatkan akidah ahlussunnah wal jamaah para santri dan alumni pesantren. Karena banyak ditemukan lulusan Pesantren Salaf yang kemudian berubah menjadi ekstrim atau (bahkan) liberal selepas masa studi dari pesantren.

Lalu terkait kecendrungan menjamurnya Pondok Pesantren Modern yang kerap membuahkan pola pendidikan Pesantren yang “setengah-setengah”, memang diperlukan evaluasi dan perombakan serius, baik terhadap kurikulum sebagai instrumen pendidikan, maupun terhadap sistem yang berlaku sebagai tradisi yang biasanya disakralkan di kebanyakan Pondok Pesantren, hal yang telah saya paparkan secara skeptis di sub bab “Telaah wacana” terdahulu.

Read More......

Wednesday, April 2, 2008

Tentang Aplikasi SGS yang Pincang ::

[Dimuat di Buletin Terobosan, edisi April 2008]

Masisir, sebagai komunitas yang menampung 5083 mahasiswa sudah tidak dikenali lagi sebagai komunitas Akademik. Hal ini salah satunya disebabkan oleh corak dinamika organisasi yang SALAH di komunitas Masisir ini. Kebanyakan organisasi yang ada di Masisir memang serentak menyebabkan alienasi penghuninya terhadap serba-serbi akademik dan spesialisasi yang lazimnya niscaya.

Selain hegemoni aktivitas organisasi-organisasi yang tidak sinergis dengan misi akademik dan keterkucilan senat, saya juga melihat bahwa kepincangan Aplikasi Student Government System (SGS) sebagai penyebab utama hilangnya kultur akademik dari perwajahan komunitas Masisir ini.

Seperti yang jamak diketahui, dalam rentang lima tahun terakhir, PPMI—sebagai organisasi induk Masisir, dijalankan dengan (SGS). Sistem yang serupa Sistem Trias Politika ini memusatkan kewenangannya pada tiga unsur pimpinan, yakni PPMI sebagai badan Eksekutif, MPA sebagai badan Legislatif dan BPA sebagai badan Yudikatif.

Jika ditilik dari terma dan corak SGS ini sendiri, seyogyanya dalam pengaplikasian SGS tersebut, tiga unsur pimpinan tadi harus senantiasa seimbang mengalokasikan wilayah perannya ke wilayah “kepemerintahan” (Government) dan “kepelajaran”nya (Student). Karena bagaimanapun, sesuai namanya, sistem pemerintahan ini harus tetap berkultur akademik, karena sistem ini menaungi 5083 orang yang berstatus mahasiswa.

Hanya pada kenyataannya, selama pengaplikasian SGS ini, para pelaksananya kebanyakan gagal menerjemahkan sistemnya ke dalam format yang tetap kental dengan nuansa akademik. Dalam dua periode terakhir, sekitar 88,82% kegiatan PPMI, MPA dan BPA terbukti hanya berkutat di wilayah “kepemerintahan” saja.

Sebagai bukti, bisa dipetakan lebih jelas aktivitas tiga unsur pimpinan PPMI tersebut: Yudikatif sibuk dengan beragam persidangan, Legislatif santer eksistensinya lewat Pemilu Raya yang terbukti bukan hanya mengeksploitasi dana yang besar, tapi juga energi para pelaksananya yang seharusnya murni tercurahkan untuk kegiatan-kegiatan yang sinergis dengan akademik dan tuntutan peran. Dan yang lebih memprihantinkan, dalam beberapa LPJ dan LKS DPP-PPMI, tercantum beberapa permasalahan sosial-kemasyarakatan Masisir yang banyak menyita energi DPP-PPMI. Seperti pada periode 2006-2007, DPP-PPMI harus tersibukkan dengan permasalahan Ongkos Naik Haji (ONH) Masisir, permasalahan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), permasalahan Komite Peduli Interaksi (KPI), permasalahan Renovasi Wisma Nusantara, permasalahan Penurunan Standar Minimal Nilai Ujian Depag RI ke Timur Tengah dan permasalahan Komite Pelaksana Pendaftaran Mahasiswa Baru (KPP MABA). Lalu pada periode 2007-2008, dalam satu semester kepengurusannya DPP-PPMI juga harus terbebani dengan beragam permasalahan yang tidak bisa dipandang sepele. Di awal kepengurusannya, DPP-PPMI harus digoncang dengan konflik antar antar-mahasiswa yang berujung “panas” di KBRI. Lalu masalah keamanan mahasiswa yang sudah tak lazim beberapa bulan terakhir, terutama di kawasan H-10 dan lain sebagainya.

Jadi, bisa dilihat dengan jelas, bagaimana tiga unsur pimpinan ini tak satupun yang berkonsentrasi penuh dalam menggalakkan dan mengakomodasi kegiatan-kegiatan akademik. Tidak juga DPP-PPMI yang terbukti selama satu tahun di periode 2006-2007 dan satu semester di periode 2007-2008 hanya bisa menyelenggarakan 33,54% saja kegiatan-kegiatan yang berorientasi akademik. Karena bagaimanapun, keberadaan satu departemen saja di DPP-PPMI yang berfungsi pokok mengatur kegiatan-kegiatan keilmuan dan peningkatan intelektualitas ditambah dua departemen yang tidak sepenuhnya bisa all out, selamanya tak akan cukup untuk dijadikan fasilitas pengubahan paradigma dan mentalitas berorganisasi di komunitas Masisir ini. Apalagi untuk menggeser hegemoni kegiatan “kepemerintahan” MPA, BPA dan beberapa Departemen di tubuh DPP-PPMI sendiri.

Realita ini kemudian menjadi landasan analisa bagi saya bahwa harus ada pembagian mainstream dan wewenang yang didasarkan pada klasifikasi corak perannya. Di mana urusan “kepelajaran” harus berdiri independen dan dijalankan dengan independen pula. Pembagiannya cukup ke dalam dua mainstream dan wewenang, yakni “mainstream dan wewenang kepelajaran” serta “mainstream dan wewenang sosial-kemasyarakatan”.

Jika sudah begini, dua mainstream dan wewenang ini akan berjalan bersisian dan tidak tumpang tindih, kedua-duanya akan bergelut dengan tugasnya masing-masing dan mengupayakan keoptimalannya. Lalu dinamika akademik pun, akan terus terangkat dan mewarnai tanpa pengabaian terhadap pentingnya urusan sosial-kemasyarakatan Masisir yang telah serupa miniatur urusan bangsa ini. Dan selanjutnya, stabilitas akademik akan perlahan menjadi acuan pola berorganisasi di komunitas Masisir ini.

“Mainstream dan wewenang kepelajaran” akan terus gencar menyelenggarakan dan mengakomodasi setiap kegiatan yang berorientasi akademik dan semangat spesialisasi, ia tak akan lagi terusik dengan permasalahan-permasalahan sosial-kemasyarakatan, ia tak akan lagi mengeksploitasi dana/energi kegiatan yang tak selazimnya, ia hanya akan merangkul organisasi-organisasi dan kegiatan-kegiatan yang sinergis dengan misinya.

Begitu pula “mainstream dan wewenang sosial-masyarakat”, ia akan dijalankan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan mengakomodasi setiap kebutuhan orang-orang yang berkepentingan pula. Ia akan dipoles dengan penuh efektifitas dan efisiensi. Ia tak lagi mendzalimi akademik.

Demikian, permasalahan kompleks memang selalu meniscayakan identifikasi jeli dan “jujur” serta perombakan yang komprehensif. Begitu juga dengan problematika keorganisasian Masisir yang “ruwet” ini. Harus diadakan evaluasi serentak. Harus diadakan re-orientasi menyeluruh. Harus diadakan perombakan terstruktur yang “berani”. Dan PPMI, menurut saya bisa memulainya, mengingat posisi PPMI sebagai organisasi sentral yang sebenarnya sangat potensial untuk membentuk paradigma berorganisasi ideal yang seyogyanya selalu mengedepankan kepentingan akademik dan semangat spesialisasi, mengingat sistem dan tradisi yang berlaku di PPMI sudah sepantasnya menjadi percontohan, bukan sebaliknya.

Read More......

Tuesday, April 1, 2008

Lebih Dekat dengan Ragam Tulisan ::

[Dipresentasikan dalam Pelatihan Jurnalistik Keluarga Masyarakat Keluarga Masyarakat kalimantan Mesir (KMKM) Selasa, 01 April 2008]

Mencoba untuk gemar menulis tanpa pernah merasa terikat adalah tips utama bagi penulis pemula. Karena dengan begitu, para penulis pemula akan lebih enjoy menjaga mood-nya untuk mentransformasikan ide ke dalam tulisannya tanpa ketertekanan.

Catatan sederhana ini berisi pengenalan dengan beragam jenis tulisan, yang sebagian besar saya strukturkan dari tulisan-tulisan terkait milik Farid Gaban, Andreas Harsono, Tadeus dan penulis-penulis lainnya. Semoga bisa membantu dalam menumbuhkan dan memetakan minat tulis sesuai dengan jenis tulisan yang digemari teman-teman peserta pelatihan sekalian. Berikut strukturnya:

Dalam dunia tulis-menulis, jenis tulisan dikelompokkan dalam dua pembagian besar:

1. Fiksi

Fiksi adalah tulisan khayalan dalam bentuk novel, cerpen, naskah drama, puisi dan lain-lain. Menurut Tadeus, salah satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak bisa dibuat sembarangan, unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik, klimaks, setting, dan sebagainya adalah hal-hal penting yang memerlukan perhatian tersendiri. Meski demikian, dengan kisah (bisa juga data) yang asalnya dari imajinasi pengarang tersebut, tulisan fiksi memungkinkan kebebasan bagi seorang pengarang untuk membangun sebuah skenario yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan kepada pembacanya. Sementara itu, kebebasan yang dimiliki pengarang fiksi tadi di lain pihak juga memungkinkan adanya kebebasan bagi pembaca untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam tulisan tersebut. Artinya, fiksi sangat memungkinkan adanya multi interpretasi makna.

Tadeus menyebutkan bahwa pada perkembangan selanjutnya, fiksi zaman sekarang juga sudah berbeda dengan kisah fiksi lama yang sering identik dengan dongeng. Tulisan fiksi saat ini tidak melulu berisi hal-hal atau cerita imajinatif dan penuh khayalan. Kita bisa melihat contohnya pada fiksi-fiksi yang ditulis dengan gaya realis. Tak jarang sebuah fiksi yang ditulis dengan gaya realis yang baik mampu membuat banyak pembaca lantas mengidentifikasikan kisah tersebut dengan kondisi nyata di sekeliling mereka. Fiksi (biasanya cerpen) yang ditulis dengan cara bertutur seperti sebuah jurnal atau laporan juga ada, bisa disebut juga novel klasik Poor People karangan Fyodor Dostoyevsky yang ditulis dengan gaya surat menyurat. Selanjutnya ada juga genre fiksi-ilmiah yang memadukan dasar-dasar ilmu sains ilmiah dengan kisah-kisah khayalan. Fiksi-fiksi yang antara lain dipopulerkan oleh penulis seperti HG Wells dan Isaac Asimov tersebut pada perkembangannya juga sering mengilhami penemuan-penemuan yang kita kenal saat ini. Berkebalikan dengan fiksi ilmiah yang biasanya mengemukakan hal-hal yang belum terjadi, kitapun mengenal adanya novel-novel sejarah. Mulai dari novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang menyajikan cerita-cerita yang dilengkapi referensi sejarah sampai novel Da Vinci Code yang sebegitu meyakinkan data yang ia paparkan, hingga membuat banyak pemimpin Kristen kalang kabut dan orang Kristen bimbang akan fakta sejarah kekristenannya.

2. Non-Fiksi

Yakni tulisan non-khayalan (berdasarkan fakta) dalam bentuk Esai, Laporan Riset, Reportase, Resensi, Biografi, Otobiografi dan lain-lain. Berkebalikan dengan fiksi, tulisan non-fiksi mengutamakan data dan fakta yang tidak boleh dibumbui oleh imajinasi atau rekaan penulis. Dalam tulisan non-fiksi yang berbentuk jurnalistik, penyampaian fakta ini bahkan harus memenuhi unsur-unsur yang terdapat dalam satu pakem yang disebut 5W1H (What, Who, When, Where, Why, How). Walau tidak sama, pentingnya referensi data ini juga menjadi syarat dalam tulisan yang lebih “bebas” seperti Esai, Feature, Memoir dan lain-lain. Namun, ini tidak berarti bahwa tulisan non-fiksi sama sekali tidak memberikan kebebasan bagi penulisnya.

Penulis non-fiksi tentu saja dapat menuliskan tema apa saja yang ia inginkan, bedanya ia hanya harus menyampaikannya dengan data yang dapat dipertanggung jawabkan, minimal oleh dirinya sendiri. Bahkan dalam praktiknya, bisa dikatakan topik untuk tulisan non-fiksi yang berupa Opini atau Feature juga lebih mudah ditemukan. Cukup dengan mengamati, menilai, atau memiliki usul, sebuah topik akan cepat didapat. Satu hal lagi yang membedakan tulisan non-fiksi dengan fiksi adalah kejelasan makna yang ingin disampaikan penulis dalam karyanya. Dengan menulis sebuah tulisan non-fiksi yang baik dan sistematis, pembaca akan lebih mudah digiring ke sebuah opini atau pesan yang ingin disampaikan penulis. Tanpa harus perlu mengartikan simbolisasi atau metafora pesan yang ingin disampaikan seperti yang terjadi pada cerita fiksi.

Tulisan non-fiksi pun saat ini tidak selalu bergaya laporan yang kaku, penuh kutipan data serta referensi yang membuatnya kering. Ini bisa dilihat dari dikenalnya Jurnalisme Sastrawi, yakni jurnalisme yang memakai estetika layaknya sastra dengan isinya yang menguak satu topik secara lebih dalam dan kadang juga disajikan dengan gaya sebuah narasi karya sastra. Jadi, jurnalisme semacam ini bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa, tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal tersebut. Hal serupa juga bisa kita lihat dari tulisan-tulisan feature, biografi, otobiografi, memoir dan lain-lain yang kini semakin banyak bisa kita nikmati seperti halnya saat membaca karya fiksi atau sastra.
Agar bisa lebih intim dengan ragam tulisan non-fiksi, berikut penjabaran singkat dari sebagian jenis tulisan non-fiksi tersebut:

  • Tentang Karya Tulis Ilmiah
Contoh Karya Tulis Ilmiah adalah Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi, Laporan Riset dan lain-lain.
Karya Tulis Ilmiah memang identik dengan jenis tulisan yang berat. Dikatakan demikian karena proses kreatifnya yang meliputi pemilihan Topik Penelitian, Judul Makalah sampai Penentuan Teorinya memang meniscayakan energi yang lebih ekstra.

Dengan memahami struktur sebuah Karya Tulis Ilmiah bisa menjadi cara yang akan menolong penulis dalam menyajikan karya tulisnya. Bila sudah mengenal masing-masing aspeknya, sedikit-banyak akan melapangkan alur pemikiran penulisnya.

Secara umum, sebuah karya tulis ilmiah terbagi dalam tiga bagian besar. Bagian yang dimaksud adalah Pendahuluan, Isi, dan Pembahasan. Meskipun ketiganya merupakan inti dari sebuah karya, tentu saja masih dibutuhkan penyemarak lain, yaitu Abstrak, Prakata, Daftar Isi, Daftar Tabel/Skema, Bibliografi, dan Lampiran. Tentu saja kelengkapan-kelengkapan tersebut tidak semuanya mutlak disertakan.
  • Tentang Esai
Esai adalah opini yang mencakup beragam jenis tulisan semisal Kolom, Analisis dan Opini. Karakteristik Esai adalah: Pertama, berbentuk opini yang mewakili opini si penulis tentang sesuatu hal atau peristiwa. Kedua, memiliki lebih banyak unsur subjektivitas walaupun tulisan itu dimaksudkan sebagai analisis maupun pengamatan yang obyektif. Ketiga, memiliki lebih banyak unsur imbauan si penulis ketimbang sekadar paparan “apa adanya”, di mana ini dimaksudkan untuk mempengaruhi pembaca agar mengadopsi sikap dan pemikiran penulis, atau bahkan bertindak sesuai yang diharapkan penulis.

Esai sering disebut ANALISIS karena berisi pembedahan kritis terhadap suatu masalah. Resensi adalah contoh sebuah Esai yang analitis, karena Resensi biasanya membedah sebuah buku/film, menyarankan orang untuk menonton/membaca atau sebaliknya, dengan menyarankan orang untuk berpaling dari film/buku tersebut dengan disertai alasan argumentatif.

Esai sering disebut OPINI karena dimuat di halaman OPINI dan EDITORIAL (halaman non-berita yang memuat tajuk rencana/opini pemilik koran, kritik dan komentar/opini pembaca, serta opini orang luar/non-redaksi).

Esai juga sering disebut KOLOM (terutama di majalah) karena tulisan itu biasa dibingkai dalam boks, dengan perwajahan khusus dan dilengkapi foto penulisnya.

Tapi apapun sebutannya, semua jenis tulisan tersebut adalah Esai. Dan di majalah/koran, Esai umumnya ditulis orang luar/non-redaksi (kecuali Tajuk Rencana/Editorial).

  • Tentang Kolom
Kolom pada dasarnya adalah Esai dalam bentuk yang khas. Kolom adalah tulisan regular (tetap) di media cetak. Halamannya tetap, jadwalnya tetap.

“Catatan Pinggir” karya Goenawan Mohamad, yang muncul setiap pekan di halaman terakhir majalah TEMPO adalah Kolom. (Tapi istilah Kolom di TEMPO juga sering rancu, karena dipakai untuk setiap tulisa orang luar).

Rubrik “RESONANSI” di Harian Republika adalah Kolom, muncul setiap hari di halaman 12, meski ditulis oleh penulis berbeda-beda (Zaim Uchrowi, Miranda Risang Ayu, dan sebagainya). Bahkan Farid Gaban, ketika masih bekerja di Republika juga mempunyai Kolom tersendiri yang hadir tiap pekan di edisi Minggu, namanya “SOLILOKUI”.

Rubrik “ASAL-USUL” di Kompas Minggu yang hadir setiap pekan di halaman 16 adalah Kolom, meskipun ditulis oleh penulis yang berbeda-beda (Suka Hardjana, Mohamad Sobary, Harry Rusly).

Umar Kayam juga pernah mempunya Kolom menarik di Harian Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta) yang hadir setiap Minggu. Di sana ia menokohkan Mr. Rigent yang unik dan sebagian darinya dikumpulkan dalam buku “Mangan Ora Mangan Kumpul”. Tulisan Umar Kayam ini pada dasarnya adalah opini, meski dia menyampaikan pikirannya melalui tokoh khayali.

Farid Gaban menyebut Kolom sebagai “esai dengan style”—bukan esai biasa. Karena menurutnya, kolom kerap terikat dengan personifikasi penulis, contohnya bisa diamati lewat kolom-kolom milik Goenawan Mohamad dan Umar Kayam.

Tapi bagaimanapun, Farid Gaban menyatakan bahwa kolom sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan tema yang serius seperti milik Goenawan Mohamad. Temanya bermacam-macam: termasuk soal Keuangan Pribadi (Safir Senduk), Konsultasi Kesehatan (Dr. Boyke), Konsultasi Pajak, Dapur Gizi, Panduan Mendidik Anak dan lain sebagainya. Intinya, jika suatu tulisan disajikan dalam pojok tertentu di koran/majalah, terbit secara rutin/terjadwal, dan ditulis oleh penulis yang tetap, maka tulisan tersebut bisa dikategorikan sebagai tulisan Kolom.

  • Tentang Feature

Farid Gaban menyebutkan feature sebagai artikel yang kreatif, kadang-kadang subyektif, terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan.

Lebih lanjut, Farid Gaban menjabarkan karakteristik Feature sebagai berikut:

Kreatifitas

Berbeda dari penulisan berita biasa, penulisan feature memungkinkan reporter ''menciptakan'' sebuah cerita.

Meskipun masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat -- karangan fiktif dan khayalan tidak dibolehkan -- reporter bisa mencari feature dalam pikirannya, kemudian setelah mengadakan penelitian terhadap gagasannya itu, ia menulis.

Subjektivitas

Beberapa feature ditulis dalam bentuk ''aku'', sehingga memungkinkan reporter memasukkan emosi dan pikirannya sendiri. Meskipun banyak reporter yang dididik dalam reporting obyektif, ia tetap memakai teknik ini bila tidak ada pilihan lain, dan hasilnya, enak dibaca.

Tapi, reporter-reporter muda harus awas terhadap cara seperti itu. Kesalahan umum pada reporter baru adalah kecenderungan untuk menonjolkan diri sendiri lewat penulisan dengan gaya ''aku''. Kebanyakan wartawan kawakan memakai pedoman begini: ''Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda!''

Informatif

Feature, yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam penulisan berita biasa di koran. Misalnya tentang sebuah Museum atau Kebun Binatang yang terancam tutup.

Aspek informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam bentuk-bentuk lain. Ada banyak feature yang “enteng-enteng” saja, tapi bila berada di tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat yang ampuh. Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk menciptakan perubahan konstruktif.

Menghibur

Dalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi suratkabar untuk bersaing dengan media elektronika.

Reporter suratkabar mengakui bahwa mereka tidak akan bisa ''mengalahkan'' wartawan radio dan televisi untuk lebih dulu sampai ke masyarakat. Wartawan radio dan TV bisa mengudarakan cerita besar hanya dalam beberapa menit setelah mereka tahu. Sementara itu wartawan koran sadar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa tahu sesuatu kejadian -- setelah koran diantar.

Wartawan harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan saingannya, radio dan TV, dengan cerita eksklusif. Tapi ia juga bisa membuat versi yang lebih mendalam (in-depth) mengenai cerita yang didengar pembacanya dari radio.

Dengan patokan seperti ini dalam benaknya, reporter selalu mencari feature, terhadap berita-berita yang paling hangat. Cerita feature biasanya eksklusif, sehingga tidak ada kemungkinan dikalahkan oleh radio dan TV atau koran lain.

Feature memberikan variasi terhadap berita-berita rutin seperti pembunuhan, skandal, bencana dan pertentangan yang selalu menghiasi kolom-kolom berita, feature bisa membuat pembaca tertawa tertahan.

Seorang reporter bisa menulis ''cerita berwarna-warni'' untuk menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap kasus, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan kepadanya hal-hal yang baru dan segar.

Awet

Menurut seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk bungkus kacang. Unsur berita yang semuanya penting luluh dalam waktu 24 jam. Berita mudah sekali ''punah'', tapi berbeda dengan feature, ia bisa disimpan berhari, berminggu dan bahkan berbulan-bulan. Koran-koran kecil sering membuat simpanan ''naskah berlebih'' kebanyakan feature. Feature ini diset dan disimpan di ruang tata muka, karena editor tahu bahwa nilai cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu.

Dalam kacamata reporter, feature seperti itu mempunyai keuntungan lain. Tekanan deadline-nya jarang, sehingga ia bisa punya waktu cukup untuk mengadakan riset secara cermat dan menulisnya kembali sampai mempunyai mutu yang tertinggi.

Sebuah feature yang mendalam memerlukan waktu cukup. Profil seorang kepala polisi mungkin baru bisa diperoleh setelah wawancara dengan kawan-kawan sekerjanya, keluarga, musuh-musuhnya dan kepala polisi itu sendiri. Diperlukan waktu juga untuk mengamati tabiat, reaksi terhadap keadaan tertentu polisi itu.

Singkat kata, berbeda dengan berita, tulisan feature memberikan penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting—fakta-fakta yang mungkin merangsang emosi (menghibur, memunculkan empati, disampil tetap tidak meninggalkan unsur informatifnya). Karena penakanan itu, tulisan feature sering disebut kisah human interest atau kisah yang berwarna (colourful story).

Jenis-jenis Feature

a. Feature kepribadian (Profil)
b. Feature sejarah
c. Fature petualangan
d. Feature musiman
e. Feature Interpretatif
f. Feature kiat (how-to-do-it feature)

Read More......