Saturday, August 18, 2007

Nasionalisme Gelombang Keenam ::

[Dimuat di Buletin Musafir—media bulanan PWK-PII Mesir, edisi Agustus 2007, rubrik Kolom]

Eksistensi dan kualitas pemuda tentu berpengaruh besar terhadap kebangkitan suatu bangsa. Semakin baik kualitas dan kredibilitas pemudanya, semakin cerah pula masa depan bangsa tersebut. Tinta sejarah Bangsa Indonesia pun sangat gamblang menceritakan realitas ini. Di mana peran strategis pemuda selalu menjadi tolak ukur segala perubahan signifikan yang menghiasi roda sejarah bangsa. Roda yang selanjutnya menghantarkan Indonesia pada putaran penemuan jati diri sebagai bangsa dan negara yang merdeka. Peran nyata para pemuda ini bisa dikelompokkan dalam beberapa gelombang yang kerap dibahasakan sebagai 20 Tahunan Siklus Gelombang Nasionalisme di Indonesia.

Sebagai ilustrasi, tercatat dalam sejarah bahwa gelombang kebangkitan nasionalisme Indonesia pertama diawali oleh munculnya Budi Utomo di tahun 1908, Organisasi kepemudaan 'pertama-tama' yang dimotori para mahasiswa kedokteran Stovia dengan motif kemuakan para mahasiswa Stovia tersebut terhadap penjajahan Belanda. Betapapun organisasi ini tumbuh dengan kesuburan konsep 'bangsa-tunggal'nya, namun tetap harus diakui bahwa permunculan organisasi ini cukup menepis streotip ketertinggalan bangsa Indonesia dalam berorganisi dibanding beberapa etnis yang kala itu ramai menghimpun kekuatan via organisasi di Hindia Belanda, semisal Arab dan Tionghoa.

Lalu menyusul gelombang kebangkitan nasionalisme kedua pada tahun 1928 dengan dicetuskannya Sumpah Pemuda, yang notabene merupakan tindak lanjut dari kesadaran nasionalisme terkotak-kotak dengan format organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera dan sebagainya. Betapa pada era ini, para tokoh pemuda terpelajar mulai dirambati oleh filsafat nasionalisme abad pertengahan pasca Perang Dunia I, seperti Bung Pomo, Bung Hatta, Sutan Syahrir dan Bung Karno. Soepomo, saat merumuskan konsep negara integralistik banyak menyerap pikiran Hegel. Bahkan, Soepomo terang-terangan mengutip beberapa pemikiran Hegel tentang prinsip persatuan antara pimpinan, rakyat dan persatuan dalam negara seluruhnya. Pada masa ini juga banyak diciptakan lagu-lagu kebangsaan yang sarat dengan muatan semangat nasionalisme seperti Indonesia Raya, Dari Sabang Sampai Merauke, Padamu Negeri, dan sebagainya. Selain Soepomo, Hatta dan Sutan Syahrir pun sudah aktif berdiskusi tentang masa depan negara Indonesia semenjak mereka masih belajar di benua Eropa atas beasiswa politic-etis balas budinya penjajah Belanda. Mereka inilah yang nantinya di masa pra & pasca-kemerdekaan banyak aktif berkiprah menentukan arah biduk kapal Indonesia. Sementara di dalam negeri sendiri, Soekarno sejak remaja, masa mahasiswa bahkan setelah lulus kuliahnya, terus aktif menyuarakan tuntutan kemerdekaan Indonesia, lewat organisasi-organisasi yang tumbuh di awal abad 20, Soekarno menjadi penghuni langganan penginapan gratis di penjara Sukamiskin dan penjara-penjara lainnya.

Selanjutnya, proses kebangkitan ini disambung dengan gelombang ketiga, yakni pada tahun 1945. Pada era ini, sebagaimana yang kita ketahui di buku-buku sejarah, para pemuda berperan nyata dengan menyandra Soekarno-Hatta ke Rengas-Dengklok agar segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Peran ini tentu sangat menentukan berlangsung atau tidaknya proklamasi kemerdekaan negara kita 62 tahun yang lalu.

Kemudian tercatat proses selanjutnya, yaitu tepat 20 tahun setelah kemerdekaan Indonesia, pada masa itu terjadi huru-hara pemberontakan G30S/PKI dan eksesnya. Konon, tanpa peran besar mahasiswa dan organisasi pemuda serta organisasi sosial kemasyarakatan di tahun 1966, Soeharto dan para tentara tidak mungkin bisa 'merebut' kekuasaan dari penguasa orde-lama Soekarno. Sayangnya, penguasa Orde Baru mendepak para pemuda dan mahasiswa yang telah menjadi motor utama pendorong ke'mandeg'an roda pemerintahan RI, sekaligus pergantian presiden dari Soekarno ke Soerharto. Bahkan, sejak akhir tahun 1970-an para mahasiswa justeru dibatasi geraknya dalam berpolitik dan dikungkung ke dalam ruang-ruang kuliah di kampus via NKK/BKK. Sementara, para tentara diguritakan ke dalam tatatan masyarakat sipil lewat dwifungsi ABRI!

Dan terakhir, kembali para pemuda yang termanifestasi dalam figur mahasiswa menunjukkan taringnya sebagai sebuah kekuatan pendobrak yang tidak bisa dirobohkan oleh kekuatan apapun, gerakan ini berhasil meruntuhkan sistem kekuasaan rezim yang otoriter, rezim yang telah menjadikan bangunan rumah 'Negara RI' dapat dijaga ketat dengan laras senapan ABRI lebih dari 20 tahun, bahkan mencapai 1,5 kali lipatnya, yakni menjadi 32 tahun. Gerakan 1998 inilah yang kemudian dikenal dengan Gerakan Reformasi yang merupakan salah satu bukti bahwa kekuatan pemuda masih terus diyakini sebagai penyangga pertahanan sebuah sistem peradaban kebangsaan yang lebih progresif.

Lalu, akankah pemuda masa kini mampu kembali 'menghentakkan' perjalanan bangsa kita dengan invetaris dedikasi senilai 'revolusi' nasionalisme yang telah dipersembahkan oleh pemuda-pemuda dekade sebelumnya? Akankah gelar agung pemuda sebagai Agent of Change dan kontrol sosial tetap bisa disandang oleh para pemuda masa kini? Akankah pemuda masa kini tetap bersiteguh dengan kekuatan idealisme yang telah menjadi trade marknya? Akankah tantangan nasionalisme gelombang keenam benar-benar mampu dijawab pemuda masa kini?

0 comments: