Friday, April 18, 2008

Imunisasi Pendidikan Pra-Hardiknas ::

Terselenggaranya kegiatan Lokakarya "Dukungan Terhadap Peningkatan Prestasi Mahasiswa Indonesia di Mesir" di Al-Azhar Conference Center, Nasr City, Cairo, tanggal 12-13 April lalu kiranya merupakan bingkisan berharga dari KBRI Cairo untuk momentum Hardiknas 2 Mei mendatang.

Betapa tidak? Lokakarya yang terlaksana dengan dukungan penuh dari Grand Syeikh Al-Azhar, Prof. Dr. Muhammad Sayyed Tantawi dan Menteri Agama RI, M. Maftuh Basyuni ini memang merupakan gagasan brilian untuk memulai pembenahan komprehensif terhadap permasalahan pendidikan Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) yang kompleks.

Kondisi Masisir yang jumlahnya kini mencapai angka 5083, sebenarnya memang tak se-“romantis” kondisi Fakhri di Ayat-ayat Cinta. Posisi Masisir yang terjebak antara sistem pendidikan Al-Azhar yang sangat tidak mengikat dan realita komunitas yang telah serupa miniatur Indonesia, memang sangat potensial mendorong terjadinya dis-orientasi pendidikan sebagian besar Masisir. Sebagai salah satu bukti, pada tahun akademik 2006-2007, terdata 52% Masisir tidak naik tingkat di Al-Azhar!

Realita inilah yang telah mendorong Dubes Abdurrahman Mohammad Fachir untuk mempertemukan semua stakeholder yang terkait dengan permasalahan Masisir dalam Lokakarya tersebut. Para stakeholder yang berkesempatan hadir dalam Lokakarya tersebut adalah: Pimpinan Al-Azhar, Kementerian Dalam Negeri Mesir, Kementerian Luar Negeri Mesir, Kedutaan Mesir di Jakarta, DPR RI (Komisi X), Departemen Luar Negeri RI, Departemen Agama RI, Departemen Pendidikan Nasional RI, Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Pemda Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, Ormas Islam (NU, Muhammadiyah, PERSIS, ICMI), KBRI Cairo, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir, Alumni Al-Azhar, Asosiasi Pesantren, Lembaga Beasiswa di Mesir, Pemerhati Pendidikan, Kalangan Pers dan representasi mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan yang ada di tubuh Masisir.


Lokakarya ini secara umum membahas persoalan-persoalan yang ditinjau merupakan faktor penyebab kegagalan studi Masisir baik persoalan pra-studi, semasa studi dan pasca studi di Al-Azhar, yang kemudian dikelompokan menjadi tiga materi pembahasan utama, yakni Keazharan, Kemesiran dan Kemahasiswaan.

Bentuk pembahasan masalah dalam Lokakarya ini dilakukan melalui: Pertama, Ceramah dan Dialog, yakni pada saat pembukaan dan penutupan acara Lokakarya yang diisi dengan materi pokok pemantapan motivasi belajar, peningkatan wawasan dan peneguhan semangat berprestasi. Kedua, Pleno I, membahas materi Keazharan dengan pokok bahasan masalah-masalah mahasiswa Indonesia di Mesir serta hubungannya dengan Universitas Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan tempat di mana mayoritas Masisir menuntut ilmu. Ketiga, Pleno II, membahas materi Kemesiran dengan pokok bahasan masalah-masalah yang terkait dengan proses pengurusan visa masuk, izin tinggal, serta keamanan selama tinggal di Mesir. Keempat, Pleno III, membahas materi Kemahasiswaan yang merupakan hasil dari tiga Sidang Komisi terkait permasalahan-permasalahan pra studi, semasa studi dan pasca studi.

Pembahasan mendalam terhadap materi-materi pokok Lokakarya tersebut berakhir dengan kesepakatan peserta Lokakarya atas sejumlah rekomendasi kebijakan dan kesimpulan tentang perlunya masing-masing stakeholder memberikan kontribusi positif berupa solusi konkret, praktis dan efektif demi menyelesaikan persoalan-persoalan Masisir, sehingga diharapkan pada masa-masa yang akan datang dapat dibentuk suatu mekanisme dan proses yang mapan dan integratif dalam mewujudkan peningkatan prestasi Masisir.

Sebagai tindak lanjut, para peserta Lokakarya juga bersepakat tentang perlunya diadakan pertemuan dan pembicaraan lanjutan di antara beberapa stakeholder terkait untuk merumuskan langkah teknis dan operasional dalam rangka mengimplementasikan hasil-hasil kesepakatan dalam Lokakarya ini. Rencana tindak lanjut ini berada di bawah koordinasi KBRI Cairo dengan melibatkan stakeholder terkait.

Betapa bisa disaksikan, Lokakarya tersebut bukan hanya merupakan paket Imunisasi Pendidikan yang hasilnya akan dirasakan Masisir beberapa tahun mendatang, tapi juga merupakan paket Imunisasi Pendidikan masal yang pengaruh konstruktifnya telah dirasakan oleh sebagian besar Masisir pada saat berlangsungnya acara Lokakarya tersebut.

Lebih jauh lagi, Lokakarya ini ternyata juga bukan hanya menyerupai paket Imunisasi Pendidikan yang hasilnya akan dirasakan oleh Masisir selaku “obyek” Lokakarya ini, tapi juga merupakan paket Imunisasi Pendidikan yang juga akan sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan generasi Indonesia dan masa depan Indonesia secara makro, mengingat mahasiswa Timur-Tengah memang masih menyandang public trust tersendiri di tengah-tengah masyarakat Indonesia dan masih diakui sebagai instrumen intelektual penting dalam berbagai peran kebangsaan, sebuah citra positif yang dengan optimis diafirmasi oleh beberapa peserta Lokakarya seperti Dr. Marwah Daud, KH. Abdullah Syukri Z, MA, Prof. Dr. Din Syamsuddin, KH. Hasyim Muzadi, Prof. Dr. Maman Abdurrahman dan lain-lain.

Secara konklusif, Lokakarya ini memang baik untuk dijadikan cermin, tentang gambaran government yang peka memahami permasalahan secara utuh dan “berani” mengawali langkah pembenahan yang komprehensif, tentang gambaran government yang berhasil mengimunisasi kuliatas pendidikan “rakyat”-nya dengan tepat dan mengena, tentang government yang telah mempersembahkan upaya serius bagi pembenahan kualitas pendidikan sekawanan generasi bangsa di Mesir, tentang government yang berhasil mempersembahkan bingkisan inspirasi pembenahan pendidikan untuk momentum Hardiknas 2 Mei mendatang.

0 comments: