Wednesday, March 25, 2009

Never Blame Cyber! ::

[Dimuat di Buletin Suara PPMI, edisi Maret 2009]

Pesatnya perkembangan media cyber semakin membuat sebagian Masisir intens dengan beragam aktivitas maya. Bagaimana tidak? Rupa-rupa menu cyber yang kebanyakan melenakan itu memang terbukti kian menawarkan ragam aktivitas menarik yang tentu saja berakses global.

Sebutlah Weblog, satu jenis menu cyber yang semakin banyak menyuguhkan tawaran hosting, baik yang gratis maupun yang bertarif. Menu cyber jenis ini banyak digandrungi sebagai media publikasi dan koleksi tulisan karena ia sama sekali tidak mengikat penggunanya dengan etika jurnalistik apapun. Ragam aktivitas blogging yang secara natural menjadi aktivitas “wajib” pengguna Weblog pun, terbukti justeru dirasakan sebagai ajang latihan tulis-menulis efektif bagi para blogger, semisal aktivitas posting (pemuatan) dan updating isi blog, improvisasi design dan tampilan blog, blogwalking (kunjungan) ke blog-blog tetangga, atau sekedar commenting dan replying the comments.

Belum lagi jenis menu cyber yang berupa media jejaring sosial semacam Facebook, Friendster, MySpace dan lain-lain. Bisa kita saksikan dan rasakan, betapa media-media ini kian hari kian atraktif dan hipnotik. Selain kemitraan dan komunikasi yang sangat cepat terbangun lewat menu cyber serupa ini, kebanyakan media jenis ini juga memiliki space lengkap yang juga mengakomodasi aktivitas cyber “semi-serius” serupa Weblog. Friendster dan Facebook misalnya, di dua macam menu cyber ini, selain bisa berjejaring sosial, penggunanya bisa juga memosting tulisan-tulisannya.

Faktor-faktor di atas ditambah juga dengan kenyataan bahwa fasilitas internet di komunitas Masisir kian hari kian melimpah. Mulai dari ADSL yang bisa dibayar murah dengan “gotong-royong” satu flat, Wireless yang kerap unsecured di mana-mana, Dial-Up yang relatif murah, bahkan USB Modem yang menawarkan mobilitas yang menggiurkan. Semua itu, benar-benar semakin melebarkan pintu untuk lebih leluasa masuk dan menggeluti dunia cyber.

Lalu benarkan pernyataan yang mensinyalir bahwa seiring pesatnya perkembangan media cyber dan melimpahnya fasilitas internet tersebut, ditemukan juga semacam pergeseran minat Masisir untuk lebih cenderung menulis di beberapa media cyber dibanding menulis di media cetak Masisir, hingga menyebabkan lesunya aktivitas media di komunitas Masisir?

Saya kira pernyataan di atas perlu ditelisik relevansinya. Mengingat sepanjang ini, tradisi penyediaan tulisan di media-media cetak Masisir lebih banyak via permohonan langsung dari redaksi media ke calon penulis, ketimbang hanya menunggu dan mengakomodir tulisan-tulisan yang masuk dengan “sukarela” ke meja redaksi. Dari sini tentu tergambar bahwa dinamis-tidaknya aktivitas penerbitan media cetak Masisir salah satunya sangat tergantung pada kecakapan dan agresifitas redaksi dalam “menekan” para calon penulis untuk bisa menyerahkan tulisannya pada waktu yang mutual terhadap agenda sang calon penulis dan agenda penerbitan media cetak milik redaksi tersebut, bukan pada banyak tidaknya tulisan “sukarela” yang masuk ke meja redaksi tersebut.

Jadi bisa dilihat, perkembangan media lain—dalam hal ini media cyber—yang telah menciptakan lahan lain untuk mewadahi aktivitas tulis-menulis, justeru lebih tampak sebagai faktor penunjang meningkatnya kecakapan tulis-menulis yang memang telah berkembang cukup baik di komunitas Masisir secara umum. Hal ini tentu secara langsung maupun tak langsung akan beimbas positif bagi regenerasi penulis media cetak di komunitas Masisir, karena dengan bisa intens berlatih menulis via media-media cyber, tulisan-tulisan Masisir yang sebelumnya masih belum terlalu layak terbit, akan semakin berkualifikasi untuk di-publish di media cetak Masisir.

Terlebih jika mengingat “prestise” dan kepuasan untuk bisa menulis di media cetak secara umum, yang hingga saat ini masih unggul ketimbang menulis di media cyber. Masalah “prestise” dan kepuasan ini, meskipun tampak “tabu” untuk disinggung, terbukti memang merupakan satu hal penting yang perlu dikemukakan untuk menelisik relevansi wacana pergeseran minat tadi. Karena tak bisa dipungkiri bahwa beberapa tulisan para blogger yang ter-posting di weblognya, merupakan tulisan-tulisan “patah-hati” yang telah diajukan untuk dimuat di beberapa media cetak, tapi belum memenuhi kualifikasi untuk dimuat di media cetak tersebut.

Demikian, dengan beberapa penelisikan di atas, kiranya tidak relevan untuk mengecam media tulis-menulis cyber sebagai penyebab melemahnya aktivitas penerbitan media cetak Masisir. Karena dinamis atau tidaknya aktivitas penerbitan media cetak Masisir sebenarnya banyak tergantung pada militansi redaksinya masing-masing, bukan pada kegandrungan Masisir untuk lebih giat menulis di media tulis-menulis cyber ketimbang di media cetak Masisir.

Read More......